Kamis, 17 Mei 2012 | 07:58 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Kritik PKS atas Banalitas PAN
Headline
Andi Yuliani Paris - inilah.com/ferdian
Oleh: Ahluwalia
web - Jumat, 18 Juli 2008 | 11:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta Sejumlah artis, sekonyong-konyong, masuk ke panggung politik. Sebuah parpol mengusung banyak artis jadi calon wakil rakyat. Tiba-tiba saja. Inikah penyakit baru parpol di Tanah Air; banalitas dan oportunisme?
Rabu (16/7) malam, tiba-tiba saja sejumlah nama populer di kalangan artis menyatakan bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN). Ada Wulan Guritno, Iyeth Bustami, Marini Zumarnis, Eko Patrio, Deri Drajat, Adrian Maulana, dan Wanda Hamidah. Sebagian mendaftar sebagai caleg. Kecuali nama terakhir, tak satupun yang selama ini menunjukkan aktivitas politik yang jelas.
"Kebetulan saja, profesi mereka artis. Tapi, PAN tetap akan menggunakan sistem perolehan suara terbanyak dari daerah pemilihannya. Jadi, bukan berdasarkan nomor urut," ujar Ketua Bidang Pendidikan dan Perempuan DPP PAN Andi Yuliani Paris.
Ini yang menarik. Mendasarkan kursi pada perolehan suara jelas akan menohok kader potensial PAN sejati. Pasalnya, sedikit banyaknya, pengumpulan suara salah satunya akan ditentukan tingkat popularitas calon. Dan, artis jelas lebih populer dibandingkan kader PAN non-artis, meski dari sisi politik kader partai lebih potensial.
Tak heran, banyak pihak yang menilai pendangkalan (banalitas) dan oportunisme kini menjadi penyakit baru parpol. Salah satunya, ya PAN. Meminjam perspektif Vaclav Havel, pendangkalan dan banalitas dalam politik merupakan tanda-tanda kemunduran .
Maka, masuk akal jika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengkritik keras maraknya parpol, secara implisit termasuk PAN. Dalam persepsi para aktor PKS, banalitas dan oportunisme para artis yang diajukan sebagai wakil rakyat telah mengingkari politik meritokrasi dan mengkhianati profesionalitas politik yang pantas. Jadi, bukan hanya bentuk ketidakpercayaan diri parpol tersebut. Hal itu, bahkan, dinilai sebagai bentuk eksploitasi terhadap selebritas.
Ini bukan soal 'halal-haram' mengusung para artis ke parlemen. Ini soal bentuk telanjang dari kebodohan parpol dalam demokrasi prosedural yang makin melenceng dari amanat reformasi dan substansi demokrasi itu sendiri.
Sungguh mengkhawatirkan bahwa politik akhirnya hanya ajang mencari kursi, kuasa, uang, serta popularitas murahan. Celakanya, dalam kasus ini, PAN, salah satu parpol potensial, terjebak ke dalam pendangkalan dan popularitas murahan.
Dalam bahasa Jazuli Juwaini, anggota Tim Pemenangan Pemilu Nasional (TPPN) DPP PKS, ada kekhawatiran serius bahwa itu soal pemanfaatan dan eksploitasi dalam situasi aji mumpung, oportunisme. Maka, masuk akal pula jika PKS mencela watak aji mumpung para artis dan politisi yang berkolaborasi tanpa ideologi yang jelas itu.
Dalam hal ini, untuk kasus PAN, dengan semboyan PAN 'hidup adalah perbuatan', ipso facto, pengusungan artis adalah bentuk popularitas murahan yang mendistorisi ideologi perjuangan PAN. Dan, sudah pasti PAN dengan kasus ini telah mengalami pendangkalan.
Tak ada jaminan bahwa PAN bisa menaikkan kursi di parlemen dengan mengusung artis. Namun, yang pasti, PAN bisa terjebak ke dalam permainan politik yang sarat pendangkalan. Jika demikian, akan dikemanakan metafora partai bahwa 'hidup adalah perbuatan' untuk kebajikan dan mewujudkan sosok kenegarawanan? Sungguh paradoks dan artifisial. Banal dan dangkal. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.