inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Defisit Naik, Utang Lagi?

Headline
Ichsanuddin Noorsy - inilah.com/Agus Priatna
Oleh: Ahmad Munjin
Rabu, 10 Maret 2010 | 10:29 WIB
INILAH.COM, Jakarta Defisit APBN-P 2010 dinaikkan menjadi 2,2%. Tapi, target penerimaan pajak justru diturunkan Rp9,5 triliun. Utang lagi?
Pengamat ekonomi-politik, Ichsanuddin Noorsy menilai rencana kenaikan defisit anggaran dalam APBN-P 2010 menjadi 2,2% sebagai upaya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendapatkan dukungan politik internasional. Dukungan ini, bisa diperolehnya melalui utang luar negeri.
Dengan alasan menutup defisit APBN, Menkeu menjual Surat Utang Negara (SUN) kepada asing. Nantinya, Sri Mulyani akan disebut sebagai menteri keuangan berprestasi, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (9/3).
Jadi, lanjutnya, prestasi menteri keuangan semata faktor tambahan utang kepada asing. Berutang bisa melalui SUN bedenominasi rupiah. Sebab, asing pun bisa membelinya. Bisa juga SUN berdenominasi global seperti Global Medium Term Notes (GMTN). Atau utang luar negeri antar negara, ujarnya.
Sejauh ini, menurut Noorsy, Sri Mulyani dinilai berjasa dengan meningkatnya utang. Padahal, ketergantungan Indonesia terhadap utang semakin parah. Dikabarkan, dalam waktu dekat Sri Mulyani akan meraih penghargaan dari Majalah AsiaMoney. Majalah ini merupakan salah satu majalah keuangan yang diterbitkan sejak 1989 berbasis di Hong Kong.
Noorsy mendesak pemerintah agar menghentikan ketergantungan terhadap utang luar negeri. Sebab, dengan utang, Indonesia justru terjajah. Menurutnya, Indonesia seharusnya bersikap realistis terhadap APBN. Konsepnya pun bukan defisit tinggi di level 2,2%, melainkan konsep surplus. Untuk apa punya rumah dan mobil bagus kalau tidak bisa tidur semalaman karena utang, tukasnya.
Asal tahu saja, defisit anggaran dalam APBN-P 2010 dinaikan jadi 2,2% dari sebelumnya di level 1,6%. Di sisi lain, target penerimaan pajak tahun ini juga diturunkan Rp9,5 triliun dari Rp742,7 triliun pada 2009 menjadi Rp733,24 triliun tahun ini. Inilah yang akan menjadi alasan penambahan utang luar negeri.
Total SUN hingga 2 Maret 2010 mencapai Rp597 triliun (80%). Selebihnya, senilai Rp121 triliun (20%) penjualan SUN kepada pihak asing. Sedangkan external debt outstanding (utang luar negeri) mencapai Rp161 triliun hingga kuartal ketiga 2009 dan Rp172,8 triliun hingga kuartal keempat 2009. Total keseluruhan utang negara mencapai Rp1.700 triliun.
Sementara itu, pengamat ekonomi David Sumual, tidak melihat adanya motif dukungan luar negeri dengan kenaikan defisit APBN. Sebab, dalam enam tahun terakhir, pembiayaan defisit berasal dari utang domestik yang berdenominasi rupiah.
Menurutnya, memang kenaikan defisit tidak diikuti dengan peningkatan target pertumbuhan ekonomi di level 5,5%. Hal itu disebabkan terjadinya penurunan penerimaan APBN dari sisi pajak. Jadi terlalu jauh mengkaitkan kenaikan defisit dengan dukungan politik internasional atas posisi Sri Mulyani saat ini, timpalnya.
Persentase utang Indonesia mencapai 28-29% terhadap PDB. Level ini dinilainya masih aman untuk berutang. Sebab, dalam Matrich Treaty (kesepatakan batasan utang) di Uni Eropa mencapai 60% terhadap PDB dan defisit anggaran 3%. Indonesia masih di bawah 30%, level yang sangat aman, ungkapnya.
David optimistis dengan defisit 2,2%. Sebab, cash flow anggaran Indonesia bisa menutupinya. Level defisit ini masih rendah dibandingkan batasan Uni Eropa maksimum di level 3%. Dia juga berkaca pada utang Jepang yang mencapai 197% dari PDB-nya.
Tapi, tandasnya, Jepang tidak bermasalah seperti Yunani yang persentase utangnya mencapai 123% terhadap PDB 2010 berdasarkan estimasi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Sebab, utang Jepang berdenominasi yen dan berasal dari domestik. Sedangkan Yunani kecanduan pada utang luar negeri dengan denominasi dolar AS, pungkasnya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.