inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Jadi Tempat Aman Terorisme

Warnet Jadi Sarang Teroris?

Headline
istimewa
Oleh: Syamsudin Prasetyo & Ellyzar Z
Rabu, 10 Maret 2010 | 11:13 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Polisi melumpuhkan teroris di lokasi yang menyediakan internet. Kelompok Osama Bin Laden juga diketahui menggunakan internet. Lalu apakah warnet ini perlu diawasi?
Pakar Teknologi Informasi Institut Teknologi Bandung Agung Harsoyo mengatakan internet merupakan sarana bantu yang juga digunakan oleh teroris. Termasuk kelompok Osama bin Laden juga menggunakan internet.
Dari sisi keterlacakan, menurut Agung, yang paling aman adalah menggunakan warnet karena sulit dicari. Jika sudah tidak aman, pelakunya bisa dengan mudah pindah ke warnet yang lain.
Namun sebuah riset di Amerika menunjukkan pergerakan manusia tidak akan terlalu jauh. Ketepatan prediksi, 70% pergerakan manusia akan terbaca di satu titik tertentu dalam waktu satu minggu pengamatan.
Dengan demikian kepolisian bisa menggunakan studi tersebut dengan menimbang gerakan terorisme dengan pola tertentu baik kosakata yang digunakan, situs yang dikunjungi, blog yang digunakan, dan sebagainya. Catatan log atau history bisa dibaca dengan jelas, jika memang serius ditelusuri, kata Agung saat dihubungi dari Jakarta, kemarin.
Agung menilai pembatasan warnet untuk mencegah terorisme tidak akan mungkin bisa dilakukan karena memang tempat publik. Namun yang paling baik adalah dengan menelusuri pola aktivitas dan kode-kode tertentu yang disembunyikan di dalam gambar atau tulisan sehingga pengawasannya lebih bersifat personal.
ID-SIRTII (Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure) menurut Agung punya kemampuan melacak trafik internet dan dapat bekerjasama dengan pihak terkait.
Dengan sedikit modifikasi sumber daya manusia, alat dan standar operasional prosedur (SOP) mesin ID-SIRTII cukup kuat untuk melakukan penelusuran data yang digunakan (signature) pengguna (tapping), tapi yang dapat membuka hanya ketua ID-SIRTII dan Dirjen Postel Kominfo, jadi bisa digunakan oleh kepolisian dan intelijen, tambah Agung.
Ketua AWARI (Asosiasi Warung Internet Indonesia) Irwin Day mengatakan sulit untuk mengontrol agar teroris tidak menfaatkan warnet untuk mengkoordinasikan jaringannya.
Namanya warnet tempat umum, jadi tidak bisa mengetahui siapa saja dan apa saja yang dilakukan di dalam warnet. Jika ada teroris yang masuk, tidak akan ada yang tahu, kepentingan orang bermacam-macam, ujarnya.
Namun Irwin mengatakan, pihaknya pernah mendapat informasi dari kepolisian menyangkut orang yang dicurigai sebagai terroris. Namun AWARI tidak pernah diajak bekerjasama secara khusus oleh Kepolisian atau Densus 88.
Email person to person yang digunakan teroris juga sangat sulit diketahui, karena tampilan fisik pun belum menjamin. Saya yakin pemerintah juga sulit untuk memilah mana yang teroris dan mana yang bukan, katanya.
Ia mengatakan teroris tidak harus melalui warnet untuk melakukan koordinasi. Karena kelompok teroris juga bisa menggunakan laptop dan jaringan modem miliknya sendiri. Belum ada gerakan khusus untuk pengawasan aktivitas terorisme yang diberitahukan kepada AWARI, kata Irwin.
Pengamat Komunikasi Universitas Indonesia Ade Armando menilai internet fungsinya sama dengan media komunikasi lain seperti telepon atau surat. Namun internet mampu menghubungkan satu dengan yang lain dengan lebih cepat, mudah, murah. Ini keuntungan tidak cuma dirasakan teroris saja. Tetapi juga oleh semua orang, imbuhnya.
Ia menilai sangat wajar jika teroris menggunakan internet karena semua orang berkembang. Tapi ia mengingatkan internet tidak perlu dikontrol.
Yang pasti ngga bisa kita mengontrol teknologi. Kontrol tentang ini seharusnya minimal. Kenapa? Karena teknologi itu sifatnya demokratis. Semua orang bisa memanfaatkannya. Termasuk internet. Kalau ada intervensi dari pemerintah saya rasa itu termasuk kekeliruan, katanya.
Ia menyarankan agar tidak menyalahkan pada teknologi. Solusi terorisme bukan membatasi internet tapi lebih memanfaatkan badan intelejen agar mereka dapat mengidentifikasi jaringannya termasuk membatasi gerak mereka.
Peningkatan power dari badan intelejen ini menurut saya yang terbaik untuk pengawasan teroris ini. Bukan malah membatasi jaringan internet apalagi menahan perkembangan teknologi, tegasnya. [mdr] [[indosat]]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.