Minggu, 27 Mei 2012 | 00:48 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Cinta Vs China
Headline
istimewa
Oleh:
web - Rabu, 10 Maret 2010 | 09:09 WIB
Percayakah anda bahwa cinta mampu menghadapi China? Jika tidak, anda harus membaca tulisan ini.

Saat ini, dengan diberlakukannya ACFTA per 1 Januari 2010, perekonomian kita sedang terancam. Kita terseok-seok mengahadapi "Made in China". Membanjirnya produk negeri tirai bambu ini telah menjadi mimpi buruk bagi sejumlah UKM dan pekerja yang mungkin akan kehilangan pekerjaan jika produk perusahaanya tidak sanggup bersaing melawan produk China yang sudah menggurita.

Berdasarkan data dari kementerian Koperasi dan UKM, 50% dari total 51 juta unit UKM di Indonesia terancam gulung tikar akibat kehilangan pangsa pasarnya.

Kemudian di Yogyakarta, Ketua Bidang UKM dan Kerajinan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API)Jadin C Djamaludin menyatakan, untuk industri tekstil saja diperkirakan akan terjadi PHK sekitar 7,5 juta orang secara nasional akibat diberlakukannya ACFTA.

Belum lagi dari industri lain seperti industri baja, garmen, alas kaki, manufaktur, dll. Lalu siapa yang harus disalahkan atas ketidaksiapan kita dalam menghadapi ACFTA? Saya pikir kita harus mulai belajar untuk tidak mencari kambing hitam bagi semua masalah yang kita hadapi.

Selama ini energi kita habis (dalam segala masalah di segala bidang) untuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab sehingga kita sering kali justru lupa mencari solusi untuk masalah yang kita hadapi.

Dalam kondisi krisis seperti ini, tidak ada gunanya kita terus berdebat mengenai siap atau tidak siap atau bahkan menyalahkan para pengambil kebijakan.

Kebijakan ACFTA merupakan suatu kenyataan yang mau tidak mau harus kita jalankan jika kita tidak mau tersisih dari pergaulan internasional. Oleh karena itu, kita jangan lagi menyalahkan pemerintah atas kebijakan ini. Yang perlu kita sama-sama pikirkan adalah penyelesaian dari masalah ini.

Sejauh ini, yang menjadi penopang perekonomian kita adalah konsumsi domestik yang tinggi. Kekuatan konsumsi ini bahkan berhasil menyelamatkan kita dari dampak krisis global. Namun, setelah diberlakukannya ACFTA, kekuatan konsumsi kita tidak lagi menjadi keuntungan bagi negeri sendiri, tapi berpindah menjadi lahan subur bagi para pengusaha China.

Dengan demikian permasalahannya adalah bagaimana kita bisa mempertahankan kondisi dimana konsumsi domestik dapat tetap menjadi sumber kekuatan para pengusaha local dan membawa keuntungan yang sebesar-besarnya bagi negeri kita sendiri.

Tanggung jawab sebesar ini tidak akan mampu diemban sendiri oleh pemerintah dan pengusaha lokal. Kita sebagai sang konsumen pun harus bersama-sama berupaya mewujudkan kondisi tersebut. Bagi pemerintah, upaya yang harus dilakukan adalah membuat kebijakan yang dapatmenciptakan iklim inve stasi yang baik serta kemudahan dalam membangun usaha.

Selain itu pemerintah juga perlu membuat kebijakan yang berpihak pada sektor riil dan UKM. Selanjutnya pemerintah juga harus mampu menyediakan layanan infrastruktur yang memadai untuk kelancaran proses produksi dan distribusi.

Yang paling sulit namun paling besar efeknya adalah peran kita sebagai masyarakat. Kita pun harus mulai men"cinta"i produk dalam negeri. Inilah kekuatan cinta yang dimaksud.

Sulit memang menahan godaan produk China yang harganya lebih murah dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik. Tetapi, selayaknya kita mencintai seseorang maka kita harus mau berkorban karena pengorbanan kita yang sedikit itu bisa berdampak besar bagi bangsa kita.

Misalkan ketika kita membeli baju kita dihadapkan pada 2 pilihan yang model dan kualitasnya hampir sama, yang satu produk China dengan harga 100 ribu dan yang kedua produk lokal dengan harga 125 ribu, maka
kita cenderung memilih yang 100 ribu tanpa tahu bahwa pilihan kita tersebut telah membuat jutaan saudara kita harus dirumahkan dan perekonomian kita menjadi carut marut.

Padahal, jika kita mau sedikit berkorban dengan membeli yang 125 ribu, keadaan tersebut tidak perlu terjadi.

Bayangkan, karena pilihan kita tersebut akan banyak industri lokal yang jatuh, akhirnya perekonomian kita kacau. Dampak dari kacaunya perekonomian adalah kesejahteraan yang menurun hingga waktu yang tidak dapat kita prediksi.

Dengan selisih 25 ribu lebih mahal maka kita akan membantu para pengusaha local meningkatkan kualitas produknya sehingga bisa bersaing dengan produk China. Dengan meningkatnya kualitas, asumsinya ekspor akan meningkat pula.

Keuntungan tersebut ditambah lagi dengan keuntungan karena pemakaian produk lokal sehingga kita tidak perlu banyak mengimpor.

Dengan demikian kita akan mendapatkan surplus dari perdagangan dengan China, kelebihan tersebut dapat digunakan untuk menyejahterakan rakyat kita.

Akhirnya kita semua bisa hidup senang. Itu semua karena cinta, karena pengorbanan kita yang 25 ribu tadi. Lihat, betapa dahsyatnya kekuatan cinta, bukan? Oleh karena itu, mulai dari diri sendiri, mulai dari produk yang terkecil, dan mulai dari sekarang,

CINTAILAH PRODUK INDONESIA!

Aurora Mahaputri (mahaputriaurora@gmail.com)
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
3 Komentar
aidil Ritonga
Minggu, 14 Maret 2010 | 10:20 WIB
"cinta" produk indonesia itu wilayah idealisme, realitas dinegri ini lebih dari setengah rakyatnya masih tenggelam dalam wilayah pragmatisme jangankan berpikir menyelamatkan ekonomi jangka panjang berpikir untuk makan esok hari saja masih belum pasti. jadi buat apa perdagangan bebas kalo hanya menguntungkan segelintir orang kaya dinegeri ini dan negara lain. cina dan amerika sendiri masih melakukan beberapa proteksi untuk produk2 negerinya yg tdk menguntungkan rakyatnya. kenapa kita harus buka semuanya.
trie
Kamis, 11 Maret 2010 | 10:30 WIB
kita sebagai konsumen dihadapkan pada 2 kepentingan, yang pertama tentu rasa kepuasan kita akan produk uang kita beli jadi disini pengusaha lokal harus lebih berkompeten dalam membuat produk yang kualitasnya dapat bersaing dengan produk luar. yang kedua,rasa "cinta" terhadap produk dalam negeri dan juga pertumbuhan ekonomi nasional, solusinya mungkin ya tetap konsumtif terhadap produk lokal lain walaupun belum secara keseluruhan sembari memperbaiki nilai kualitas dari produk lokal itu sendiri,sehingga kita benar-benar 100% cinta Indonesia.
rahmanhqm
Rabu, 10 Maret 2010 | 11:18 WIB
klo dalam kondisi keuangan normal, sy sangat setuju, akan tetapi...disaat sekarang rasanya sangat sulit, bukannya rakyat gak mau, tetapi gak mampu...nyari duit seribu aja sulit apalagi ngerelain uang segitu...yang jadi masalah adalah kesiapan kita dengan pasar bebas, bukankah ini sudah lama dirancang, bukan keputusan yg sim salabim jadi, ya kan... buat Pemerintah tolong dong klo bicara ekonomi n harga2 barang serta daya beli masyarakat, pake data real yang terjadi di tengah2 rakyat kebanyakan...jangan pke angka2 di atas kertas yang nampaknya selama ini sangat bertolak belakang dengan kenyataan...
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.