Percayakah anda bahwa cinta mampu menghadapi China? Jika tidak, anda harus membaca tulisan ini.
Saat ini, dengan diberlakukannya ACFTA per 1 Januari 2010, perekonomian kita sedang terancam. Kita terseok-seok mengahadapi "Made in China". Membanjirnya produk negeri tirai bambu ini telah menjadi mimpi buruk bagi sejumlah UKM dan pekerja yang mungkin akan kehilangan pekerjaan jika produk perusahaanya tidak sanggup bersaing melawan produk China yang sudah menggurita.
Berdasarkan data dari kementerian Koperasi dan UKM, 50% dari total 51 juta unit UKM di Indonesia terancam gulung tikar akibat kehilangan pangsa pasarnya.
Kemudian di Yogyakarta, Ketua Bidang UKM dan Kerajinan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API)Jadin C Djamaludin menyatakan, untuk industri tekstil saja diperkirakan akan terjadi PHK sekitar 7,5 juta orang secara nasional akibat diberlakukannya ACFTA.
Belum lagi dari industri lain seperti industri baja, garmen, alas kaki, manufaktur, dll. Lalu siapa yang harus disalahkan atas ketidaksiapan kita dalam menghadapi ACFTA? Saya pikir kita harus mulai belajar untuk tidak mencari kambing hitam bagi semua masalah yang kita hadapi.
Selama ini energi kita habis (dalam segala masalah di segala bidang) untuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab sehingga kita sering kali justru lupa mencari solusi untuk masalah yang kita hadapi.
Dalam kondisi krisis seperti ini, tidak ada gunanya kita terus berdebat mengenai siap atau tidak siap atau bahkan menyalahkan para pengambil kebijakan.
Kebijakan ACFTA merupakan suatu kenyataan yang mau tidak mau harus kita jalankan jika kita tidak mau tersisih dari pergaulan internasional. Oleh karena itu, kita jangan lagi menyalahkan pemerintah atas kebijakan ini. Yang perlu kita sama-sama pikirkan adalah penyelesaian dari masalah ini.
Sejauh ini, yang menjadi penopang perekonomian kita adalah konsumsi domestik yang tinggi. Kekuatan konsumsi ini bahkan berhasil menyelamatkan kita dari dampak krisis global. Namun, setelah diberlakukannya ACFTA, kekuatan konsumsi kita tidak lagi menjadi keuntungan bagi negeri sendiri, tapi berpindah menjadi lahan subur bagi para pengusaha China.
Dengan demikian permasalahannya adalah bagaimana kita bisa mempertahankan kondisi dimana konsumsi domestik dapat tetap menjadi sumber kekuatan para pengusaha local dan membawa keuntungan yang sebesar-besarnya bagi negeri kita sendiri.
Tanggung jawab sebesar ini tidak akan mampu diemban sendiri oleh pemerintah dan pengusaha lokal. Kita sebagai sang konsumen pun harus bersama-sama berupaya mewujudkan kondisi tersebut. Bagi pemerintah, upaya yang harus dilakukan adalah membuat kebijakan yang dapatmenciptakan iklim inve stasi yang baik serta kemudahan dalam membangun usaha.
Selain itu pemerintah juga perlu membuat kebijakan yang berpihak pada sektor riil dan UKM. Selanjutnya pemerintah juga harus mampu menyediakan layanan infrastruktur yang memadai untuk kelancaran proses produksi dan distribusi.
Yang paling sulit namun paling besar efeknya adalah peran kita sebagai masyarakat. Kita pun harus mulai men"cinta"i produk dalam negeri. Inilah kekuatan cinta yang dimaksud.
Sulit memang menahan godaan produk China yang harganya lebih murah dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik. Tetapi, selayaknya kita mencintai seseorang maka kita harus mau berkorban karena pengorbanan kita yang sedikit itu bisa berdampak besar bagi bangsa kita.
Misalkan ketika kita membeli baju kita dihadapkan pada 2 pilihan yang model dan kualitasnya hampir sama, yang satu produk China dengan harga 100 ribu dan yang kedua produk lokal dengan harga 125 ribu, maka
kita cenderung memilih yang 100 ribu tanpa tahu bahwa pilihan kita tersebut telah membuat jutaan saudara kita harus dirumahkan dan perekonomian kita menjadi carut marut.
Padahal, jika kita mau sedikit berkorban dengan membeli yang 125 ribu, keadaan tersebut tidak perlu terjadi.
Bayangkan, karena pilihan kita tersebut akan banyak industri lokal yang jatuh, akhirnya perekonomian kita kacau. Dampak dari kacaunya perekonomian adalah kesejahteraan yang menurun hingga waktu yang tidak dapat kita prediksi.
Dengan selisih 25 ribu lebih mahal maka kita akan membantu para pengusaha local meningkatkan kualitas produknya sehingga bisa bersaing dengan produk China. Dengan meningkatnya kualitas, asumsinya ekspor akan meningkat pula.
Keuntungan tersebut ditambah lagi dengan keuntungan karena pemakaian produk lokal sehingga kita tidak perlu banyak mengimpor.
Dengan demikian kita akan mendapatkan surplus dari perdagangan dengan China, kelebihan tersebut dapat digunakan untuk menyejahterakan rakyat kita.
Akhirnya kita semua bisa hidup senang. Itu semua karena cinta, karena pengorbanan kita yang 25 ribu tadi. Lihat, betapa dahsyatnya kekuatan cinta, bukan? Oleh karena itu, mulai dari diri sendiri, mulai dari produk yang terkecil, dan mulai dari sekarang,
CINTAILAH PRODUK INDONESIA!
Aurora Mahaputri (mahaputriaurora@gmail.com)