INILAH.COM Jakarta - Mantan anggota Pansus Bank Century DPR, Akbar Faizal baru saja membayar utang kepada istri dan ketiga anaknya. Selama tiga hari, dia tak mau diganggu siapapun, kecuali bersama anak dan istri.
Sejak terlibat di Pansus Bank Cantury saya nyaris meningalkan anak dan istri, jarang pulang, ujar Akbar Faizal kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin. Jadi, usai sidang paripurna DPR yang menandai waktu reses bagi anggota DPR, Akbar memilih kumpul bersama keluarga dan rekreasi sekadarnya.
Alhamdulillah, saya bisa ajak keluarga jalan-jalan, tutur Akbar dengan raut muka berseri-seri. Anggota DPR dari Partai Hanura yang juga mantan wartawan ini menikah dengan Andi Syam Sartika Virawati. Akbar telah telah dikaruniai tiga anak yakni Gagah Ananda Faizal, Adinda Saraswati, dan Gading Takhta Akbar. Akbar dan keluarga tinggal di kawasan Depok, Jawa Barat.
Sejak terpilih menjadi anggota panitia khusus yang menyelidiki penyimpangan dana bailot Bank Century, Akbar hanya fokus pada tugasnya itu. Selain harus mengikuti rapat-rapat di DPR, baik internal Pansus maupun dengan narasumber sebagai saksi, Akbar juga harus keliling menggalang dukungan.
Bersama para insiator hak angket Century lainnya, Akbar mengadakan road show menemui sejumlah tokoh nasional seperti Amien Rais, A Syafii Maarif, Aburizal Bakrie, dan Surya Paloh. Selama menjadi anggota Pansus hampir seluruh waktu dan perhatian Akbar dicurahkan untuk mengumpulkan fakta berkaitan dengan dugaan penyimpangan dana bailout Rp6,7 triliun kepada Bank Century.
Akbar bersyukur dapat menyelesaikan tugasnya sebagai anggota Pansus Bank Cantury. Akbar berkeyakinan, rekomendasi yang dihasilkan Pansus mengenai kasus Bank Century sesuai dengan harapan rakyat. Ini merupakan momen bagi parlemen untuk memperbaiki citranya.
Akbar menyatakan, parlemen harus terus memperbaiki diri untuk menjaga citranya sebagai lembaga wakil rakyat. Jadi, bukan berarti setelah panitia khusus yang membahas angket Bank Century selesai, perjuangan wakil rakyat juga selesai, timpal Akbar.
Ia mengakui, citra DPR dapat terdongkrak berkat kerja Pansus Bank Century. Hal itu terbukti dengan banyaknya dukungan masyarakat yang disampaikan kepada Pansus. Akan tetapi bukan berarti Pansus Bank Century merupakan satu-satunya momen wakil rakyat untuk memperjuangkan kebenaran dan kepentingan rakyat. Masih banyak yang harus diperjuangkan anggota DPR untuk rakyat, papar Akbar.
Sebagai wakil rakyat yang duduk di Komisi V DPR, yang antara lain membidangi masalah transportasi, Akbar berjanji akan mengontrol pelayanan transportasi publik yang diberikan kepada pemerintah. Itu sebagai jalan perjuangan membela rakyat.
Dengan kontrol dari DPR itu, Akbar berharap pelayanan pemerintah kepada publik di bidang transportasi tidak asal-asalan, tidak sembrono. Pelayanan transportasi juga harus memberi jaminan keselamatan bagi rakyat.
Di luar negeri, satu nyawa hilang karena kecelakaan transportasi, bisa mengakibatkan pejabat publik yang bersangkutan mundur. Jadi, tanggung jawab pejabat publik di luar negeri itu tinggi sekali, ujar Akbar membandingkan.
Akbar adalah salah satu anggota Pansus Bank Century dan termasuk inisiator penggunaan hak angket kasus Century, yang lebih dikenal dengan Tim Sembilan. Bersama anggota fraksi DPR lainnya seperti Lily Wahid (PKB), Maruarar Sirait (PDIP), Bambang Soesatyo (Golkar), Misbakhun (PKS), Chandra Wihaya (PAN), Romahurmuzy (PPP) dan Ahmad Muzani (Gerindra), Akbar berjuang menggalang dukungan untuk membongkar bailout dan aliran dana Century.
Sebelum dan sesudah Pansus bekerja, Tim Sembilan melakukan road show ke sejumlah tokoh masyarakat. Dan hasilnya, rekomendasi Pansus yang menyatakan ada penyimpangan dalam pemberian dana dan aliran dana kepada Bank Century diduga ada pelanggaran, menjadi keputusan rapat paripurna DPR.
Salah satu kesederhanaan Akbar tampak dalam memilih alat transportasi. Ia, meskipun sudah menjadi anggota DPR, masih sering naik kereta api listrik (KRL). Dari rumahnya di Depok, Akbar naik ojek menuju stasiun KA Depok. Selama dalam perjalanan di atas KA, Akbar memanfaatkan waktu untuk membaca koran.
Tapi baca koran juga sambil goyang-goyang karena naik keretanya berdiri, nggak dapat tempat duduk, cerita Akbar sambil tertawa. Nah, turun dari kereta pun, Akbar kembali naik ojek atau naik taksi menuju gedung DPR.
Mengenai cerita naik ojek dan kereta api, bukanlah sesuatu yang aneh bagi Akbar Faizal. Saat masih menjadi wartawan, Akbar lebih memilih naik kereta api. Dia juga berjanji tetap akan naik kereta karena moda kendaraan ini lebih lancar dan ekonomis. Banyak untungnya naik kerata. Selalu nambah teman, paparnya mengakhiri perbincangan. Semoga ia konsisten memperjuangkan aspirasi rakyat dan tetap sederhana. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !