INILAH.COM, Surabaya Karena tak diberi uang jajan oleh orangtuanya, Fani Maulana Malik Ibrahim (18) nekat menjambret. Pemuda yang masih berstatus kelas 2 SMK ini sudah 13 melakukan aksi penjambretan.
Dalam aksinya, Fani tak sendirian. Pemuda bertubuh kurus ini bersama Satrio Ardi Saputra (24) yang merupakan tetangganya di Jagir Wonokromo gang Masjid.
Saat beraksi Satrio ini berperan sebagai joki motor, sedangkan Fani sebagai eksekutor yang menjambret tas korban. Sasaran kedua pelaku ini adalah perempuan yang membawa tas, ujar Kapolres Surabaya Selatan AKBP Bahagia Dachi didampingi Kapolsek Tegalsari AKP Ronny Tri Prasetyo di Mapolsek Tegalsari, Rabu (10/3).
Korban terakhir dari kedua pelaku ini adalah Siti Fatimah (30) warga Tambak Gringsing Baru, Surabaya. Kejadiannya sekitar pukul 20.00 WIB di jalan Urip Sumoharjo. Waktu itu korban mengendarai motor seorang diri.
Saat melintas di Jalan Urip Sumohardjo tepatnya di depan toko Arlisah, kedua pelaku ini yang mengendarai motor Honda Supra X L 4115 KC ini memepet korban. Setelah itu Fani langsung merampas tas korban, papar Dachi.
Namun korban berusaha mempertahankan tasnya. Akibatnya terjari tarik menarik antara pelaku dan korban hingga tali tas korban putus. Usai mendapatkan tas, kedua pelaku langsung kabur.
Tapi korban tak mau menyerah. Korban mengejar kedua pelaku. Setelah mendekati motor pelaku, korban menabrakkan motornya ke motor pelaku. Akibatnya kedua pelaku terjatuh dan dihajar massa. Selanjutnya kedua pelaku diamankan ke Polsek Tegalsari.
Kepada penyidik, Fani mengaku terpaksa menjambret lantaran butuh uang untuk jajan. Saya butuh uang buat jajan, Mas. Saya tak diberi uang oleh orangtua buat makan dan minum, akunya.
Fani juga mengaku kalau yang menjual HP hasil menjambret adalah Satrio. Saya jual ke WTC. Paling besar laku Rp 250 ribu, kata Satrio. [beritajatim.com/bar]