INILAH.COM, Makassar - Ada kenangan tak terlupa saat mantan Wapres Jusuf Kalla datang ke sekretariat HMI. Dulu, dia ikut merebut tempat itu.
Wisma atau lebih tepatnya sekertariat HMI di Makassar memang terkenal. Tempat itu termasuk bangunan bersejarah.
Sebagai aktivis HMI, mantan Wapres Jusuf Kalla rupanya banyak berperan merebut tempat itu agar bisa jadi sekretariat HMI.
Saat mengunjungi wisma HMI di Jl Bonto Lempangan nomor 39, Rabu (10/3) JK kembali bernostalgia bersama Rafiuddin Hamarung,
mantan anggota DPR RI dari PDK.
JK menuturkan, waktu itu tahun 1966. Dia menjadi sekertaris HMI cabang Makassar dan Rafiuddin sebagai Ketua.
Waktu itu sedang hangat-hangatnya pemberantasan PKI pasca isu Gerakan 30 September 1965.
"Di tempat ini dulu tinggal orang Paperki, orang Tionghoa yang dianggap sama dengan PKI waktu itu. Mereka ada dua keluarga dan menempati tempat yang berbeda di atas itu," kenang JK di depan para aktivis HMI dan wartawan.
Waktu itu, lanjut JK, dia dan 50 orang anggota HMI masuk ke tempat itu sekitar pukul 20.00 Wita. Mereka bilang kepada kedua keluarga Tionghoa itu bahwa mereka hendak tinggal di tempat itu.
"Kami datang baik-baik dan tidak onar. Saya katakan, permisi saya mau ambil tempat ini. Mereka bilang silahkan saja," katanya yang diiyakan oleh Rafiuddin.
Di lokasi sebelum ada bangunan wisma HMI, ada beberapa tempat yang dipetak-petakkan. Selain di Jl Bonto Lempangan, ternyata aksi JK dan kawan-kawan waktu itu juga berhasil mengambil dua tempat lainnya.
Pertama bekas Konsulat China yang orang-orangnya terusir gara-gara kasus PKI. Lalu, tempat itu dijadikan markas KAHMI.
Kedua, di Jl Irian Makassar, namun JK tidak dijelaskan untuk tempat apa.
Mantan Ketua Umum Golkar ini bercerita, dulu para aktivis tidak ingin melakukan hal-hal yang kasar namun mereka juga ingin memiliki semua tempat itu dan mengusir PKI.
"Jadi caranya, setiap malam kita latihan
drumband sampai tengah malam, maksudnya supaya dia cepat pergi," terang Jk yang disambut gelak tawa hadirin yang ada di situ.
Sebenarnya, ada kisah di balik kepemilikan tempat itu. JK bilang, bahwa tempat itu dulunya oleh Walikota Makassar saat itu, Letkol M Daeng Patompo tidak diperbolehkan untuk organisasi.
Namun setelah ada surat penunjukkan untuk ditinggali JK dan Rafiuddin, mereka pun tinggal dan menjadikannya sekretariat.
"Rumah ini dulu namanya rekulasi, di zaman Belanda ditempati mereka. Setelah dipakai belanda, ada suratnya. Dan akhirnya saya berdua (Rafiuddin) punya surat resmi di tandatangani Walikota. Tapi saya sobek
lalau dibuang, sengaja supaya jangan ada yang merasa memiliki. Entah itu anak saya atau anaknya Rafiuddin," kenang JK.
Dikisahkan juga, ia dan Rafiuddin sengaja merobeknya dengan alasan kelak mereka berdua berpisah, tidak ada yang mengklaim tempat itu milik siapa. Termasuk keturunan mereka berdua.
Singkat cerita, Walikota diganti. Maka jadilah tempat itu milik HMI karena memang menjadi sekertariat mereka.
Setelah periode Rafiuddin dan JK menjadi Ketua dan Sekretaris, akhirnya periode berikutnya JK-lah yang terpilih sebagai ketua cabang.
Menurut mereka berdua, baik JK maupun Rafiuddin sebenarnya sudah lupa sejarah tempat tersebut. Namun, karena markas HMI ini diserang oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, maka mereka lalu mengenang
kembali sejarah merebut tempat ini dari PKI.[sur/ims]