INILAH.COM, Jakarta Rupiah pada Kamis (11/3) akan melanjutkan rally, didukung kuatnya aliran dana asing. Namun, investor juga masih harus mewaspadai tekanan inflasi, terkait rencana kenaikan tarif listrik April mendatang. Analis BRI Sekuritas Rahmat Wibisono memprediksikan, rupiah hari ini masih akan menguat akibat derasnya aliran dana asing ke dalam negeri. Namun, ada peluang koreksi terutama jika Bank Indonesia (BI) tidak segera mengantisipasi tekanan inflasi terkait rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Rupiah hari ini akan diperdagangkan pada kisaran 9.150-9.210 per dolar AS, paparnya ketika dihubungi
INILAH.COM, Rabu (10/3) petang.
Menurutnya, efek
capital inflow didukung menguatnya mata uang dunia, khususnya dari kawasan Eropa seperti euro dan poundsterling. Hal ini terjadi setelah Prancis mengumumkan komitmen negara anggota Uni Eropa (UE) untuk membantu Yunani melepaskan diri dari defisit anggaran. Penguatan euro masih menjadi alasan penguatan rupiah, katanya.
Namun, lanjutnya, ada peluang pelemahan rupiah akibat ekspektasi tingginya inflasi menyusul kenaikan TDL. Hal ini terjadi jika pemerintah tidak responsif mengambil langkah antisipatif. Rahmat menuturkan, Jika Bank Indonesia (BI) tidak merespon dengan menaikkan suku bunga atau langkah otoritas fiskal lainnya, maka aliran dana yang masuk ini dikhawatirkan akan kembali keluar.
Sebab, asing masuk ke Indonesia dengan eskpektasi imbal hasil tinggi, mengingat inflasi masih rendah dengan catatan pertumbuhan ekonomi yang positif. Ini pemicu masuknya aliran dana asing, tutur Rahmat.
Sementara ini, imbuh Rahmat, fluktuasi rupiah masih terjaga. Pasalnya, arus dana asing yang masuk ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sudah dibuat seminimal mungkin dampaknya ke nilai tukar. BI telah melakukannya dengan mengubah lelang mingguan SBI menjadi bulanan. Tak hanya untuk membatasi arus dana asing, namun juga berdampak terhadap rupiah. Mata uang bisa menguat dan semata-mata tidak disebabkan oleh aliran dana ke SBI, pungkasnya.
Hal senada juga diungkapkan Zulfirman Basir, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures yang memperkirakan, rupiah hari ini masih akan menguat. Hal ini dipicu positifnya ekspektasi pemulihan ekonomi dan meningkatnya
demand terhadap komoditas. Rupiah akan bergerak dalam kisaran 9.100-9.200, katanya kepada
INILAH.COM, ketika dihubungi terpisah.
Menurutnya, penguatan rupiah tidak akan berhasil tembus 9.100 per dolar AS. Sebab, di kisaran 9.110-9.130, mata uang RI ini cenderung dilanda aksi
profit taking. Namun, rupiah akan tetap berada di teritori positif untuk melanjutkan penguatan ke arah 9.000 besok. Penguatan rupiah mendapat topangan dari ekspektasi positif data pertumbuhan Jepang, menyusul membaiknya neraca perdagangan China, ungkapnya.
Apresiasi dolar AS masih akan terjadi terhadap mata uang utama, termasuk euro akibat kekhawatiran kondisi finansial negara-negara Uni Eropa seperti Yunani, Potugal, Spanyol, dan Perancis. Selain itu, meningkatnya permintaan terhadap komoditas, baik minyak mapun emas membuat dolar AS menguat terhadap negara-negara yang berbasis ekspor, seperti Uni Eropa, Inggris, dan Korea Selatan.
Namun, penguatan dolar AS atas euro tidak akan menjadi tekanan bagi rupiah. Dolar AS cenderung melemah terhadap mata uang negara-negara berbasis komoditas, seperti Indonesia dan China. Hal ini didukung oleh persepsi investor bahwa ekonomi dunia mulai membaik. Permintaan komoditas meningkat seiring pemulihan itu, sehingga rupiah sebagai mata uang berbasis komoditas pun terselamatkan dari tekanan dolar AS, tandasnya.
Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (10/3) ditutup menguat 25 poin (0,272%) terhadap dolar AS menjadi 9.165/9.175. [vin/ast/mdr]