INILAH.COM, Jakarta - Rieke Diah Pitaloka siap pasca melaporkan Dokter Rasyidin yang melecehkannya di RSUD Labuan Baji, Sulewesi Selatan, Senin (8/3), ke polisi. Rieke merasa terhina.
Tentang itu semua, Rieke yang ditemui di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (10/3) menuturkannya.
Kapan peristiwa pelecehannya?
Peristiwa 8 Maret 2010 bertepatan di Hari Perempuan Internasional. Saya datang ke RSUD itu dengan tugas resmi kunjungan kerja, dalam posisi sebagai anggota komisi IX, bidang kesehatan. Pertemuan mulai setengah dua, temasuk persoalan yang mereka alami. Kendala keuntungan 100% harus setor ke kas daerah. Dalam sesi pendapat, pimpinan menyatakan dan menyebutkan nama saya adalah Rieke. Saya tanya UU rumah sakit, tidak boleh disetorkan ke daerah. Sikap saya mendukung rumah sakit.
Orang yang bersangkutan itu mengambll microphone dan ngomong tidak sepakat apa yang saya katakan. Tapi yang saya omongin adalah UU. Ini bentuk dukungan kepada RS. Orang yang sama, sekali lagi menjawab tanpa melalui pimpinan sidang. Saya pikir dia adalah perwakilan provinsi, tapi ternyata dokter pihak rumah sakit itu.
Lalu?
Pas kelar kita berfoto, memang banyak orang-orang. Masih ada ruang, dia ada di sebelah kanan saya. Ketika di foto dia merangkul tanganya sampai di pundak saya. Saya bilang nggak usah rangkul-rangkulan. Dia bilang 'Anda kan public figur, nggak apa-apa'.
Meski saya datang publik figur, saya tidak pernah mau difoto rangkul-rangkulan dengan bukan muhrim saya. Setelah foto pertama, sekali lagi orang ini masih merangkul, dia ngomong didekat belakang kuping saya, 'saya sun ya?' Saat itu, saya langsung tepis.
Awalnya dia manggil saya Oneng, ya nggak masalah. Nggak ada yang dengar, sampai saya pikir apa ada setan yang bisikan saya. Pas keluar dia juga masih 'cengar-cengir'. Ini pelecehan, tapi dia bilang bukan. Ya sudahlah salam-salaman.
Rasanya?
Saya benar-benar nggak enak diperlakukan seperti itu. Padahal dia teman pimpinan komisi. Meski saya publik figur, saya bilang ke dia 'Anda tidak berhak memperlakukan saya seperti itu, saya datang ke sini sebagai tugas negara. Apalagi saya pakai jas. Jas itu tidak saya buka, semua tertutup. Saya katakan, ini bukan persoalan baju, mengapa baju yang dipersalahkan. Dia datang bersama kepala rumah sakit. Lain lagi antusiasme karena kedatangan DPR RI yang sudah lama tidak datang.
Jadi Anda menyikapinya seperti ini?
Ini pelecehan terhadap saya, kepada perempuan, terhadap profesi, artis yang masuk ke dunia politik. Ini sebetulnya merendahkan anggota DPR, karena saya datang sebagai anggota dewan.
Kenapa mengambil tindakan hukum?
Saya jadi artis dan foto-foto dengan banyak orang bukan kali ini. Tapi belum pernah reaksi saya sekeras ini. Ini perbuatan tidak pantas. Saya juga hadir karena tugas dan ada surat kerja. Saya tidak hanya dilecehkan, tapi saya terlanggar secara hukum, terhina. Ini sebagai pembelajaran bagi siapapun, dan siapa saya. Ini negara hukum. Ini tidak hanya pelecehan terhadap terhadap hukum, tapi juga perempuan.
Selain suami, siapa yang mendukung?
Yang men-support hanya dua orang dari Gerindra dan PKB. Soal memaafkan, itu lebaran saja urusannya. Masa selesainya dengan salam-salaman. Tapi memaafkan tentu saja. Kenapa tidak? Tetapi hukum harus jalan. Sekali lagi ini tidak bisa dibiarkan. Kasus seperti sering terjadi hanya berujung pada saling memaafkan. Ini negara hukum.
Selain itu?
Sebagai ativis perempuan, itu juga akan saya advokasi. Artinya siapapun posisinya, perempuan di negara ini rentan terhadap pelecehan. Harus ada efek jera pelaku. [aji/mor]