INILAH.COM, Jakarta- Gempa Chili beberapa waktu lalu menewaskan ratusan manusia serta merusak banyak bangunan. Tidak hanya itu, posisi Chile pun mengalami perubahan dengan bergeser 10 kaki (3 meter) ke arah barat. Pernyataan ini datang dari peneliti University of Hawaii di Manoa.
Dengan metode pengukuran GPS yang diambil sebelum dan setelah terjadinya gempa 8, 8 SR ini, peneliti Benyamin Brooks dan James Foster menemukan kenyataan yang mengejutkan. Mereka mlihat bahwa lempeng yang bertabrakan akibat gerakan tektonik dari zona subduksi ini berdampak kepada posisi Chile yang menjadi lebih ke barat.
"Sebelum gempa, ada sekitar 50-100 stasiun GPS di seluruh Amerika Selatan," kata Brooks. "Kami berharap untuk menambahkan tambahan 25 hingga 35 GPS lagi."
GPS yang berfungsi untuk memberikan tanggapan mengenai gempa bumi ini terdiri dari berbagi data di mana para ilmuwan berusaha untuk membangun gambaran yang paling rinci tentang bagaimana zona subduksi dapat mempengaruhi gerakan permukaan bumi.
"Rata-rata," kata Brooks, "Perubahan ini merayap perlahan ke arah timur, sekitar 30 sentimeter setiap tahun." Gerakan itu adalah hasil dari lempeng Nazca yagn saling menabrak dengan lempeng Amerika Selatan, dimana peristiwa geologi yang sama juga telah membentuk pegunungan Andes.
Namun gempa 27 februari lalu ini mengakibatkan perubahan lempengan pula.
"Selain dari kehancuran dan tragedi yang dialami oleh rakyat Chili, gempa ini mungkin akan menjadi gempa yang paling banyak dapat dipelajari dalam sejarah," kata Brooks.
Brooks dan Foster mengatakan bahwa sementara lokasi yang mengalami gerakan terbesar dan dekat dengan pusat gempa, mengakibatkan perubahan koordinat GPS di beberapa tempat lain di bumi. Santiago, ibukota negara, ditemukan telah pindah 11 inci ke arah barat-barat daya.
Ilmuwan NASA juga mengatakan bahwa gempa di Chili mempersingkat waktu rotasi bumi.[ito][[indosat]]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !