INILAH.COM, Jakarta Energi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menipis. Deraan profit taking melanda saham unggulan. Namun, saham sektor konsumsi masih memimpin kenaikan. Pada perdagangan Kamis (11/3) sesi siang, IHSG

ditutup menguat tipis 0,57 poin (0.02%) ke level 2.670,79. Sedangkan Indeks saham unggulan LQ45

turun 0,5800 poin (0,11%) ke level 521,95.
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia masih cukup ramai dengan volume transaksi tercatat mencapai 2,932 miliar lembar saham, senilai Rp1,641 triliun dan frekuensi 54.212 kali. Sebanyak 87 saham menguat, sedangkan 79 saham melemah, dan 78 saham stagnan.
Pergerakan sektor saham di bursa terjadi tarik menarik secara seimbang. Sektor konsumsi masih memimpin penguatan sebesar 1,47%, properti 0,60%, perdagangan 0,45%, keuangan 0,28%, infrastruktur 0,11%. Sedangkan sektor aneka industri memimpin koreksi sebesar 1,83%, perkebunan 0,64%, pertambangan 0,38%, industri dasar 0,36%, dan manufaktur 0,13%.
Saham-saham sektor konsumsi yang menguat antara lain Unilever (
UNVR) naik Rp 350 ke Rp 12.950, Gudang Garam (
GGRM) naik Rp 100 ke Rp 27.200, Indofood (
INDF) menguat Rp25 ke Rp3.875, dan Kalbe Farma (
KLBF) naik Rp20 ke Rp1.700.
Alfiansyah, analis Sinarmas Securities memperkirakan, pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti akan bergerak variatif cenderung menguat (
mixed to higher ). Hal ini dipicu tarik menarik sentimen antara aksi
profit taking dan akumulasi beli di pasar. Indeks akan bergerak di kisaran
support 2.636 dan 2.688 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, Kamis (11/3).
Menurutnya, karakter investor saat ini sangat variatif. Pasar melihat indeks sudah menguat selama tiga hari terakhir, sehingga sebagian investor melakukan aksi ambil untung sebagai konsekuensi dari pola transaksi jangka pendek. Tapi, di sisi lain, pelaku pasar juga melakukan akumulasi beli dengan pola transaksi jangka panjang.
Saat sebagian pelaku pasar melakukan penjualan, invstor lain langsung menampungnya. Alhasil, ada
bargaining antara sisi
supply dan
demand yang seimbang. Hal ini memicu pergerakan indeks melambat, ulasnya.
Akumulasi beli dipicu sentimen individual dari publikasi laporan keuangan emiten
full year 2009. Pelaku pasar melakukan pola
selective buying untuk akumulasi karena berharap bisa memperoleh dividen. Pasar juga berekspektasi saham pilihannya bisa melanjutkan
rally, seiring kuatnya kondisi fundamental berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, paparnya.
Sementara itu, indeks regional pun bergerak variatif akibat sudah terbatasnya peluang penguatan. Indeks Hang Seng dalam posisi negatif, sedangkan Nikkei bergerak positif. Tapi, indeks kawasan Asia secara keseluruhan lebih diwarnai aksi ambil untung, ungkapnya.
Di sisi lain, harga minyak juga bergerak dua arah. Minyak di bursa Nymex terkoreksi tipis 0,46% ke level US$81,63 per barel

. Sedangkan di sesi perdagangan WTI, minyak sempat menguat ke level US$82,09 atau naik 0,6%. Emas sendiri saat ini dalam posisi positif ke level US$1,114 per troy ons, ucapnya.
Alfiansyah menambahkan,
net buy asing masih terus terjadi mencapai Rp80 miliar. Posisi pembelian asing sendiri secara keseluruhan mencapai Rp273,8 miliar. Sedangkan posisi jual mencapai level Rp197,3 miliar. Ini menandakan posisi asing masih menggembirakan bagi pasar kita, ungkapnya.
Sektor saham yang berpeluang menjadi penggerak indeks hari ini berasal dari perbankan dan konsumsi. Ia pun merekomendasikan pasar mencermati saham PT Indofood Sukses Makmur (
INDF), PT Jasa Marga (
JSMR), dan PT Perusahaan Gas Negara (
PGAS). Sedangkan PT Adaro Energy (
ADRO), disarankan
buy on weakness. Untuk saham lapis duanya saya rekomendasikan
speculative buy untuk
ELSA (PT Elnusa), pungkasnya. [ast/mdr]