INILAH.COM, Jakarta - Sebuah buku yang menceritakan proses pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) diluncurkan dalam acara di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Barat, Jakarta, Kamis (11/3).
Buku berjudul "Banjir Kanal Timur, Karya Anak Bangsa" yang ditulis Robert Adhi Ksp ini diterbitkan oleh Penerbit Grasindo Jakarta.
Buku setebal 320 halaman yang dicetak berwarna dengan kata pengantar mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan kata sambutan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto ini, memuat seluk-beluk proses pembangunan proyek infrastruktur pengendalian banjir, Banjir Kanal Timur.
Mantan Wapres Jusuf Kalla yang berperan penting dalam pengambilan keputusan penyelesaian pembangunan BKT. Kalla mengambil keputusan beberapa saat setelah banjir dahsyat merendam sebagian besar wilayah Jakarta pada 2007.
Pembangunan BKT menelan biaya sekitar Rp5 triliun, sedangkan dampak kerugian banjir bisa lebih dari jumlah itu. Biaya pembebasan lahan ditanggung Pemprov DKI Jakarta melalui dana APBD, sedangkan biaya pembangunan konstruksi oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui dana APBN.
"BKT adalah contoh pengendalian banjir yang radikal," kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Pitoyo Subandrio. Upaya pengendalian banjir sudah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda. Banjir Kanal Barat dibangun pada 1922 dari Pintu Air Manggarai sampai Pantai Indah Kapuk (Kali Adem) sepanjang 18,5 km. Namun BKB tidak cukup mengendalikan banjir Jakarta. Pembangunan BKT kemudian direncanakan.
Banjir Kanal Timur adalah kanal buatan yang berfungsi mengendalikan banjir akibat hujan lokal dan aliran dari hulu di wilayah timur Jakarta. BKT sudah direncanakan dalam Rencana Induk (Masterplan) DKI Jakarta pada 1973. Rencana Induk DKI Jakarta ini membuat BKT memotong Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jatikramat, Kali Cakung, dan Kali Blencong hingga menuju laut.
Ada beberapa studi dan perencanaan yang dibuat terkait BKT, antara lain oleh Nedeco (1973 dan 1996), Nikken (1989 dan 1993) dan JICA (1997). Perencanaan desain detail yang dibuat Nedeco, ditinjau kembali oleh konsultan Nikken & Association dengan bantuan OECF (Overseas Economic Cooperation Fund) pada tahun 1989 dan 1993. Pada 2003, PT Virama Karya & Associates membuat revisi detail desain BKT dan hasilnya digunakan untuk pelaksanaan pembangunan BKT saat ini.
Rencana pembangunan BKT sudah keputusan politik dan tercantum dalam Perda DKI Jakarta No 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2010 Provinsi DKIJakarta. Presiden (waktu itu) Megawati Soekarnoputri mencanangkan pembangunan BKT pada 10 Juli 2003 (halaman 48).
BKT melayani sistem drainase pada wilayah seluas 20.700 hektar dan mengurangi 13 kawasan rawan genangan, yaitu kelurahan-kelurahan Cipinang Besar, Cipinang Muara, PondokBambu, Duren Sawit, Pondok Kelapa, Malaka Sari, Malaka Jaya, Pondok Kopi, Pulogebang, Ujung Menteng, Cakung Timur, Rorotan, dan Marunda.
Selain berfungsi mengurangi ancaman banjir, melindungi permukiman, kawasan industri dan pergudangan di Jakarta bagian timur dan utara Jakarta, BKT juga berfungsi sebagai prasarana konservasi air untuk pengisian kembali air tanah dan sumber air baku, juga prasarana transportasi air.
Proyek BKT sepanjang 23,5 kilometer terbagi dalam delapan paket dan dikerjakan tujuh kontraktor nasional dan satu joint operation kontraktor Taiwan. Para kontraktor itu adalah PT Waskita Karya, PT Jaya Konstruksi MP Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, RSEA Engineering Corp-PT Sarang Tehnik JO, PT Hutama Karya-Bumi Karsa KSO, PT Pembangunan Perumahan (PP), PT SAC Nusantara-PT Basuki Rahmanta Putra JO, dan PT Adhi Karya.
Karya Anak Bangsa
Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto merasa bangga dengan BKT karena ini merupakan karya bangsa Indonesia, mulai dari otak, otot, dan dana (APBN dan APBD). "Saya harus bangga dengan proyek BKT ini karena perencana dan konsultan dari Indonesia, pengawas Indonesia, kontraktor Indonesia kecuali satu Joint Operation dari Taiwan, tetapi leader tetap kontraktor Indonesia. Jadi BKT ini hasil otak Indonesia, otot Indonesia, dan kantong Indonesia," kata Djoko Kirmanto (halaman 212).
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, Prmprov DKI akan menjadikan BKT semacam promenade, show window daerah aliran sungai (DAS) di Jakarta.
"Kami akan menyediakan ruang terbuka hijau di sepanjang BKT. Di jalan inspeksi akan dibangun jalur khusus untuk jogging dan jalur khusus sepeda. Bayangkan ada 23,5 km jalur sepeda yang bisa dilalui dengan nyaman. Kalau bolak-balik sudah 47 km. Ini nilai tambah, yang Insya Allah akan dapat dinikmati warga Jakarta," kata Fauzi Bowo (halaman 218).[*/mor]