INILAH.COM,Jakarta - Pada penutupan perdagangan Kamis (11/3) rupiah ditutup pada kisaran 9.185 atau melemah 15 poin dibandingkan penutupan kemarin pada kisaran 9.170.
Direktur PT Currency Management Fahrial Anwar mengatakan, rupiah masih di kisaran 9.150-9.200. Belum ada sentimen luar biasa yang mempengaruhi pelemahan rupiah. Menurut Fahrial, rupiah melemah karena ada aksi profit taking oleh pelaku pasar. "Posisi dolar di kisaran 9.150 merupakan level yang sudah maksimal untuk penguatan rupiah sehingga pelaku pasar ambil profit taking," ujar Fahrial, saat dihubungi INILAH.COM , Kamis (11/3).
Menurut Fahrial, rupiah bergerak anomali dengan pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 2.675 sedangkan rupiah melemah. Saat ini rupiah dalam periode konsolidasi.
Hal senada diungkapkan oleh Pengamat Valas PT Harvest Future International Tony Mariano. Tony menuturkan, belum ada sentimen luar biasa yang mempengaruhi rupiah. Saat ini pelaku pasar menanti pengumuman data inflasi China. Bila inflasi naik maka China akan menaikkan suku bunga.
Tony menjelaskan, mata uang regional pun menguat terhadap dolar. Sehingga rupiah tidak akan terlalu menguat dan melemah. Menjelang akhir pekan, transaksi pun terbatas sehingga rupiah melemah.
Tony memprediksikan, rupiah pada perdagangan Jumat (12/3) akan berada di kisaran 9.150-9.230. "Tidak ada faktor dominan mempengaruhi rupiah," kata Tony.
Sementara itu, Fahrial meramal rupiah akan berada di kisaran 9.150-9.200. Hal ini dikarenakan dana asing masih akan masuk ke surat utang,SBI dan bursa saham. Suku bunga acuan relatif stabil di 6,5% menjadi daya tarik investor.
Fahrial menambahkan, krisis ekonomi Yunani yang mulai mereda berdampak terhadap penguatan mata uang Euro, sehingga berdampak terhadap rupiah. Perdagangan pada akhir pekan pun mempengaruhi rupiah. [cms]