INILAH.COM, Jakarta Rupiah pada perdagangan Jumat (12/3) masih berpotensi melanjutkan penguatan. Kombinasi sentimen eksternal, terutama indikasi revaluasi yuan menjadi katalisnya. Analis valas Toni Mariano memprediksikan, rupiah

hari ini masih akan melanjutkan penguatan, terkait sentimen positif eksternal dan domestik. Namun, sentimen regional lebih berpengaruh pada rupiah, seiring penguatan mata uang Asia pascaindikasi revaluasi yuan oleh pemerintah China. Mata uang RI ini akan bergerak pada kisaran 9.120-9.230 per dolar AS, paparnya kepada
INILAH.COM, Kamis (11/3) kemarin.
Menurutnya, China masih saja belum melepaskan
tag mata uangnya ke dolar AS, meski ada potensi kenaikan tingkat inflasi. Kondisi ini membuat yuan menjadi
under value, berlanjut pada sulitnya pertumbuhan ekspor China. Dengan kenaikan inflasi, ada desakan bagi China untuk meredam pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat (
overheating), kata Toni.
Sementara itu, untuk meredam pertumbuhan ekonomi, China tak boleh begitu saja meninggalkan target pertumbuhan ekonominya. Maka kemungkinan revaluasi mata uang yuan sangat besar. Apalagi, pejabat bank sentral negara itu sudah menyampaikan rencana itu pekan lalu. Kebijakan perekonomian China ini berdampak ke mata uang regional. Rupiah pun ikut menguat, lanjutnya.
Dari dalam negeri, pertumbuhan Indonesia yang pada kuartal pertama 2010 ini diprediksikan lebih dari 5%, turut mendukung fundamental rupiah. Sehingga mata uang RI ini bisa menguat di tengah dominasi dolar AS terhadap mata uang utama lainnya. Mata uang Asia ternyata bisa pararel dengan dolar AS karena isu revaluasi yuan, pungkasnya.
Di sisi lain, Frans Darwin Sinurat,
Head of Foreign Exchange Department, Bank Mutiara memperkirakan pergerakan rupiah hari ini dalam kisaran
trading. Hal ini dipicu stabilnya dolar AS terhadap mata uang utama. Rupiah akan bergerak dalam kisaran 9.185-9.210, katanya kepada
INILAH.COM, ketika dihubungi terpisah.
Hingga kini, imbuhnya, belum ada
trigger baru yang bisa menunjukkan arah rupiah. Pergerakannya pun semata dipengaruhi faktor teknis
demand dan
supply, bukan faktor fundamental. Tapi, karena hari ini akhir pekan, rupiah lebih berat ke arah level 9.210, ucapnya.
Sementara itu, aksi
profit taking tidak akan menyebabkan rupiah melemah jauh. Apalagi, jika rupiah bisa menembus level psikologisnya, maka mata uang RI itu justru berpeluang menguat lebih jauh ke level 9.000 per dolar AS. Ini mungkin saja terjadi jika melihat masih derasnya
capital inflow, pungkasnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (11/3) melemah 35 poin (0,381%) terhadap dolar AS menjadi 9.200/9.210. [vin/ast/mdr]