INILAH.COM, Jakarta - Tingginya biaya produksi bukan hanya menyebabkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Masih terdapat penyebab lain tingginya biaya produksi.
"Apakah betul listrik itu membuat high cost. Sebetulnya banyak hal lain yg membuat high cost," ujar Direktur Utama PT PLN, Dahlan Iskan saat ditemui di Gedung Kementrian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (12/3).
Dahlan menuturkan, pada dasarnya pembengkakan biaya produksi telah terjadi dari awal, namun tidak disadari para pengusaha. Namun, karena listrik paling mencolok, para pengusaha baru merasa terbebani saat TDL dinaikkan. "Listrik itu sebetulnya masalah yang datang terakhir saja. Ibaratnya gelas ini sudah penuh sekarang, kemudian akibat tarif listrik naik, airnya tumpah. Sektor yang memberatkan adalah ekspor, pajak dan pelabuhan," ucapnya.
Agar biaya produksi tidak semakin membengkak, Dahlan menyarankan, agar pengusaha melakukan efisiensi. "Lakukan pemangkasan pada bagian yang dirasa tidak perlu," tandasnya.
Menurutnya, faktor-faktor lain yang tidak lebih penting dari listrik, itu bisa disingkirkan sehingga kenaikan listrik pun tidak memberatkan industri. Dikatakan, seharusnya kenaikan TDL tidak sepatutnya mengejutkan, pasalnya wacana kenaikan TDL tersebut telah dihembuskan sejak lama bahkan tercantum dalam APBN. "Semua yang mengikuti pembahasan APBN di DPR beberapa bulan yang lalu sebetulnya tahu kalau Juli itu ada kenaikan listrik," ucapnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, PLN tengah melakukan dengan Kementrian Perekonomian untuk menginventarisasi industri yang paling terpukul akibat kenaikan TDL. Langkah selanjutnya adalah mencari jalan keluar
dari masalah tersebut. "Ini masih diwacanakan dirapatkan dalam pertemuan selanjutnya," tukasnya. [cms]