INILAH.COM, Jakarta Koreksi indeks saham mendapat respon berbeda di pasar uang. Rupiah akhir pekan ini berhasil menguat seiring kenaikan suku bunga antar bank (JIBOR) ke 7,109 basis poin.Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (12/3) ditutup menguat 48 poin (0,521%) terhadap dolar AS menjadi 9.152/9.160, ketimbang posisi kemarin di level 9.200/9.210. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.00 WIB rupiah menguat 43 poin (0,467%) menjadi 9.152 per dolar AS.
Albertus Christian K, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu kenaikan
Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR). Karena itu, meski indeks saham melemah 10,01 poin (0,37%) ke level 2.666,51, rupiah berhasil menguat ke level 9.152.
Bahkan, sepanjang perdagangan rupiah sempat mencapai level terkuatnya di angka 9.145. Level terlemahnya hari ini pun, di angka 9.185 masih lebih kuat dibandingkan penutupan kemarin, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (12/3).
Menurutnya, para bankir melihat adanya potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate). Seperti diketahui, tingkat suku bunga antar bank di Indonesia selalu dipatok 15 basis poin di atas suku bunga bank yang sebenarnya. Saat ini, JIBOR bertenor tiga bulan sudah naik ke 7,1094 basis poin dari sebelumnya 7,0906. Inilah yang meyebabkan penguatan rupiah hari ini, ujarnya.
Di sisi lain,
US dollar LIBOR interest rates dengan tenor yang sama (tiga bulan) justru turun ke 0,257 basis poin. Hal ini menyebabkan tingkat suku bunga bank di AS masih di kisaran 0,10 poin. Alhasil, ada selisih (
gap) antara
JIBOR rate dengan
US Dolar LIBOR rate. Mata uang RI ini pun menguat terhadap dolar AS. Sebab, yang menggerakkan mata uang hanya faktor imbal hasil (
yield) dan faktor suku bunga, paparnya.
Lebih jauh Albertus mengatakan, penguatan rupiah hari ini semakin menegaskan bahwa koreksi kemarin semata faktor teknis, untuk penguatan lebih jauh. Sebab, rupiah juga mendapat topang dari kondisi makro yang masih bagus dan terkendalinya inflasi, imbuhnya.
Sementara itu, dolar AS terhadap mata uang utama saat ini masih
sideways sehingga tidak terlalu berpengaruh pada pergerakan rupiah. Terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro), dolar AS hari ini diotransaksikan di level 1,3718. Hal ini dipicu sikap
wait and see pasar atas data
retail sales di AS yang akan dirilis malam ini, timpalnya.
Data
retail sales AS diekspektasikan negatif ke level 0,2% dari bulan Januari yang positif di level 0,5%. Karena itu, jika perkiraan ini terbukti, dolar AS berpeluang kembali menguat, pungkasnya.
Nilai tukar rupiah sore ini terpantau ditransaksikan pada level 8.397 terhadap dolar Australia, di angka 12.562 terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro), dan di posisi 6.569 terhadap dolar Singapura.
Sementara itu, mata uang kawasan mendominasi penguatan terhadap dolar AS. Hanya dua mata uang yang melemah. Dolar Australia turun 0,24% menjadi 0.917, dan dolar New Zealand melandai 0,20% ke level 0.701 per dolar AS.
Selebihnya, mata uang kawasan menguat. Yen Jepang merambat naik 0,07% ke angka 90.439, dolar Hong Kong terangkat 0,0048% ke posisi 7.758, dolar Singapura naik 0,22% menjadi 1.394, dolar Taiwan terapresiasi 0,11% ke level 31.747, dan won Korsel terdongkrak 0,46% terhdap dolar AS ke angka 1.128.
Begitu juga dengan peso Filipina yang terkerek naik 0,12% ke posisi 45.660, rupee India menajak 0,31% menjadi 45.468, yuan China menggeliat 0,01% ke level 6.825, ringgit Malaysia bangkit 0,38% ke angka 3.307, dan baht Thailand merangkak naik 0,35% ke posisi 32.565 per dolar AS. [ast/mdr]