INILAH.COM, Jakarta - Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri mengatakan, penyerahan jasad dua tersangka terorisme, yang merupakan pengawal Dulmatin masih menunggu kedatangan pihak keluarga.
Menurut Kapolri di Jakarta, Jumat (12/3), hingga kini Polri belum menemukan keluarga dari dua tersangka yang tewas tertembak di Pamulang, Tangerang, Banten pada Selasa 9 Maret kemarin. "Kami masih mencari keluarganya dulu," katanya singkat.
Kedua jasad yang bernama Hasan dan Ridwan tersebut, menurut dia, akan diserahkan setelah ada keluarga yang mengakui. Polisi menembak mati Hasan dan Ridwan dalam penangkapan di Pamulang, tidak jauh dari lokasi penembakan Dulmatin.
Jasad Dulmatin kini telah dimakamkan di Pemalang, Jawa Tengah. Dalam penangkapan, Dulmatin sempat melepaskan satu tembakan ke arah polisi saat berada di warnet, Pamulang.
Sedangkan Hasan dan Ridwan yang diduga sebagai pengawal Dulmatin tidak sempat melepaskan tembakan kendati sempat mencabut pistol FN dari balik bajunya. Polisi mengetahui jejak Dulmatin di Pamulang setelah penangkapan para 14 tersangka terorisme yang mengadakan latihan militer di hutan Aceh Besar.
Berdasarkan dokumen dan keterangan para tersangka, polisi dapat mengetahui jejak Dulmatin. Dulmatin diduga sebagai perancang, penyandang dana sekaligus penyuplai senjata untuk latihan militer kelompok itu.
Dia menjadi buronan Polri sejak 2002 karena ikut merakit bom Bali bersama Ali Imran (terpidana seumur hidup bom Bali 2002) dan Dr Azahari (buronan kasus terorisme yang tewas tertembak di Batu, Jawa Timur, 2005).
Pemerintah Australia pernah menawarkan hadian 10 juta dolar AS bagi siapa saja yang bisa menangkapnya. Militer Philipina juga memburu Dulmatin karena diduga terlibat gerakan separatis di negara itu. Dulmatin pernah tiga kali diberitakan tewas dalam operasi militer Philipina. [*/jib]