INILAH.COM, Jakarta - Sikap Menkominfo Tifatul Sembiring yang juga mantan Presiden PKS terkait kedatangan Presiden AS Barack Obama berpotensi menjatuhkan citra politik PKS. Jika tak hati-hati, PKS bisa menuai getahnya.
Menurut peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi pernyataan Tifatul memiliki resistensi yang kuat terutama bagi pemilih tradisional PKS dan kader PKS.
Berdasar temuan tesis saya, kader PKS sangat resisten terhadap politik luar negeri AS. Banyak sekali demo-demo anti AS yang dimobilisasi kader-kader PKS, ujar penulis tesis PKS dan Gerakan Sosial pada Australia National University (ANU), kepada INILAH.COM di Jakarta, Jumat (12/3).
Menurut Burhan, Amerika Serikat dipersepsikan sebagai setan besar yang memusuhi umat Islam, terutama terkait dengan konflik Israel. Meski Obama dipandang lebih lunak terhadap Islam, tapi kader-kader PKS belum melihat komitmen dan tindakan konkret yang positif terhadap umat Islam, paparnya.
Terkait sikap Tifatul Sembiring yang kooperatif dengan kehadiran Obama di Indonesia, Burhan justru menilai akan berdampak kepada pemilih PKS yang bisa mencurigai sikapnya sebagai upaya mendekat ke SBY. Apalagi pascamemanasnya hubungan PKS dengan SBY pada sidang paripurna pekan lalu, imbuhnya.
Memang pascaparipurna DPR 3 Maret lalu, hubungan SBY dengan sejumlah partai koalisi yang bersebarangan dengan Partai Demokrat dikabarkan memanas. Kabar tekanan reshuffle kabinet juga kencang berhembus dari internal Partai Demokrat.
Kontroversi sikap Tifatul Sembiring bukan kali ini saja. Beberapa langkahnya menuai polemik di publik termasuk internal PKS. Sebut saja soal iklan politik yang mencantumkan foto KH Hasyim Asyari (Pendiri NU) dan KH Achmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) yang mendapat protes keras dari keluarga besar NU dan Muhammadiyah.
Juga penyebutan Soeharto sebagai pahlawan dan guru bangsa menjadi pelengkap polemik yang muncul di era kepemimpinan Tifatul Sembiring di PKS. Kini, polemik serupa muncul meski ruang dan kapasitasnya berbeda yaitu menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II.
Tak tanggung-tanggung, yang menjadi materi kontroversi Tifatul Sembiring saat ini yaitu kedatangan Presiden AS Barrack Obama. Pemimpin negara yang selama ini diasosiasikan oleh kader PKS sebagai simbol negara barat dan anti-Islam. Sontak saja sejumlah kalangan bereaksi, salah satunya adalah FPI dimana lembaga ini memintanya untuk bertobat.
Namun Tifatul berdalih sikapnya yang cenderung kooperatif terhadap AS dan tentang kehadiran Barack Obama justru menghormati kehadiran tamu sesuai tuntutan Islam.
Apa yang berlebihan? Tidak ada yang berlebihan. Dalam Islam, menghormati tamu itu wajib hukumnya. Mengapa dipersoalkan? Kalau bukan dalam keadaan perang kita wajib menghormati tamu yang datang. Abu Jahal (musuh utama Nabi) saja ketika datang ke Rasulullah diterima dengan baik sebagai tamu, paparnya di Jakarta, Jumat (12/3).
Memang secara normatif tidak ada yang aneh dari pernyataan Tifatul Sembiring. Hanya saja, pernyataan tersebut jika diletakkan dalam konteks pola pikir dan cara pandang kader PKS secara umum, jelas pemikiran Tifatul sulit diterima.
Ini setali tiga uang dengan gagasan PKS jelang Pemilu 2009 lalu yang berkeinginan untuk bergeser menjadi partai tengah. Resistensi internal PKS cukup kuat atas gagasan perubahan PKS menjadi partai tengah.
Sikap Tifatul Sembiring justru akan berdampak dua hal serius. Pertama terhadap persepsi publik khususnya kader dan pemilih PKS serta dianggap sebagai sikap pelunakan partai itu terhadap SBY terkait kasus Century. [mdr]