PADANG Tiji sebuah kota kecil. Berada di jalur utama Aceh Besar-Sigli. Menjadi agak ramai, karena Padang Tiji adalah perkampungan pertama yang ditemui setelah melintasi pegunungan Seulawah.
Saya beberapa kali bolak-balik melintasi kota ini saat Aceh berada dalam situasi yang menegangkan. Sebelas tahun yang lalu, saat status Darurat Operasi Militer (DOM) baru saja dicabut oleh pemerintahan Habibie.
Di Jakarta, ribuan orang Aceh meneteskan air-mata. Antara rasa pedih dan kelegaan. Meski, di Padang Tiji, situasinya masih tak banyak berubah: tegang dan mencekam!
Tak ada lalu-lalang menjelang maghrib saat itu. Semua pintu rumah tertutup. Dari arah Sigli, Padang Tiji adalah demarkasi terakhir kecemasan. Setiap pengendara yang menuju Banda Aceh, akan terlepas ketegangannya setelah melintasi Padang Tiji.
Begitu juga sebaliknya: pengendara dari Banda Aceh, akan memulai ketegangan di Padang Tiji. Saat itu, Padang Tiji seperti demarkasi hidup-mati!
Beruntung, saya cukup lama melakukan tugas jurnalistik di sana. Sebagai orang Jakarta dan Jawa. Dan, beruntung juga saya dalam banyak kesempatan, berdiskusi dengan pihak Indonesia dan pihak Aceh Merdeka. Juga, mereka yang secara terus-menerus memperjuangkan kedamaian di Aceh.
Satu yang cukup intens adalah almarhum Abdullah Syafei. Waktu itu, beliau adalah Panglima Atjeh-Sumatera Liberation National Front, sebuah kelompok paramiliter pembebasan Aceh dan Sumatera.
Intinya, banyak yang sudah tahu. Bahwa, masalah mendasar di Aceh adalah keadilan, penegakan hukum, penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia dan kesejahteraan.
Kini, terdengar lagi cerita tentang Padang Tiji. Sebuah kelompok teroris sedang mengorganisir diri. Suara tembakan terdengar lagi, setelah hampir tujuh tahun tak boleh lagi ada senapan meletus di Aceh dalam perang!
Sebagai orang yang pernah melintasi Padang Tiji, terus terang, saya ragu bahwa di tempat itu ada teroris. Bahwa, di kawasan Aceh Besar dan Sigli pernah terjadi gerakan bersenjata dan aksi paramiliter, iya!
Tapi, yang diperjuangkan adalah keadilan hakiki, penegakan hukum, penghormatan terhadap HAM dan kesejahteraan. Dan, lawannya adalah kebijakan, perlakuan, penindasan, yang kemudian direpresentasikan sebagai "Penjajah." Daerah perlawanannya pun jelas: Nanggroe Aceh Darussalam. Di luar itu, mereka menghargai hak masing-masing.
Jadi, ideologi dan aksi teroris, jauh berbeda dengan ideologi perlawanan di Aceh, ketika itu. Bahwa, di Aceh ditegakkan syariat Islam, iya. Tapi, itu sama sekali bukan seperti ideologi teroris!
Di Padang Tiji, saya pernah melihat seorang orator yang mengobarkan semangat perang, malah terlibat bentrok dengan warga sekitar. Alasannya, ideologinya berbeda. Di Padang Tiji, Islam yang dijalani adalah Islam yang disyariatkan. Tidak ekstrim, apalagi radikal.
Untuk sementara, saya merasa yang disampaikan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Irwandi Yusuf, benar. Bahwa, teroris di Aceh saat ini bukan Gerakan Aceh Merdeka. Tidak ada titik-temu alurnya!
Saya membayangkan sambil merinding: semoga Padang Tiji tidak seperti dulu lagi. Mencekam. Tegang. Seperti menjadi garis demarkasi hidup-mati antara Banda Aceh-Sigli.[*]