Minggu, 27 Mei 2012 | 00:49 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Royal Rumble: Century Vs HMI Vs Densus 88 & Dulmatin
Headline
istimewa
Oleh:
web - Sabtu, 13 Maret 2010 | 16:09 WIB
Ibarat pertandingan gulat, royal rumble, satu arena, tak ada kawan yang ada hanyalah musuh. Sama halnya dengan pemberitaan media massa, yang lebih kuat dan populer, itulah pemenangnya.

Pertarungan ini pun tak lepas dari rangkaian pemberitaan aktor yang berlaga, Century dengan Pansus-nya, HMI dengan solidaritasnya, dan Densus 88 dengan Dulmatin-nya.

Bagi masyarakat yang sangat paham dengan pemberitaan yang terjadi di media massa, pastinya akan tersenyum dengan jalannya pertandingan ini. Ibarat pertandingan gulat, seluruh aktor yang tampil di media massa akan tetap menjadi pemenang jika mereka masih tegak berdiri di panggung hingga tak ada penantang lagi. Dan seperti itulah dinamika yang terjadi pada media kita sekarang.

Dimulai dengan aksi gagahnya tim Pansus Century, yang dengan kewenangannya dapat memanggil dan memintai keterangan dari beberapa orang penting negeri ini. Hingga aksi ini pun dilanjutkan dengan drama berseri yang cukup panjang hingga berminggu minggu mewarnai panggung media massa nasional.

Menutup aksinya, bola panas pansus dioper ke Paripurna DPR yang cukup mengundang kontrofersi dan kritikan, hingga akhirnya Opsi C menjadi senjata pamungkasnya.

Harusnya kejelasan Opsi C sebagai pamungkas Pansus mendapat perhatian lebih di masyarakat tentang kelanjutannya, namun pamungkas itu pun tak cukup ampuh. Kasus Century pun mulai terkubur dan kalah heboh dengan aksi mahasiswa (anarkis) di Makassar, yang kabarnya ada oknum polisi yang merusak kantor HMI Makassar.

Spontan mendengar berita itu, aksi mahasiswa di seluruh Indonesia,khususnya HMI mulai memanas. Atas nama solidaritas, HMI mulai turun kejalan menentang sikap polisi yang represif dalam menangani aksi demo Makassar, hingga menuntut Kapolda Sulselbar beserta Kapolwiltabes Makassar dicopot. Pada babak itu, polisi tersudut.

Ada satu hal menarik dalam sesi ini, dalam hitungan minggu, mungkin kurang dari itu, aksi mahasiswa dengan mudahnya beralih isu dan tuntutan, mulai dari Kasus Century ke Kasus HMI. Dan hebatnya, kedua aksi tersebut sama sama keras dan panas.

Kembali ke pertandingan, kuatnya aksi HMI ternyata tidak cukup kuat untuk menarik perhatian media. Kasus HMI ditinggalkan, karena Densus 88 dan Brimob sedang naik panggung dengan aksinya melawan teroris di Aceh dan Pamulang.

Kehebatan Densus 88 beserta Brimob di Aceh dan Pamulang terdengar nyaring di media nasional dan mungkin internasional. Gagahnya Densus 88 semakin sempurna dengan keberhasilannya ketika berhasil menembak mati teroris yang paling di cari dan berpengaruh, Dulmatin.

Pada babak ini, kepolisian dan Densus 88 khususnya mendapatkan nilai A atas aksinya, dan masih menjadi headline di berbagai media.

Jalannya pertandingan ini pun rasanya belum selesai, karena akan selalu ada pemenang dan penguasa panggung media yang lebih kuat. Namun, hingga saat ini Densus 88 dengan Dulmatin-nya lah yang masih menjadi pemenang.

Sampai saat ini, media masih menunggu penantang baru yang lebih kuat dalam mendominasi media massa hingga terbentuknya opini publik yang absolut, dan memang sepertinya babak ini tidak akan pernah selesai.

kurawaastina@yahoo.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.