INILAH.COM, Jakarta Rupiah pada perdagangan Senin (15/3) masih akan menguat, meski pasar berkonsolidasi menjelang libur besok. Hal ini terkait ekspektasi bahwa likuiditas akan kembali mengalir, pascatutup bursa.Teddy Gunawan dari Pacific 2000 Securities memprediksi, rupiah

pada perdagangan hari ini akan menguat, menyusul pelemahan dolar AS. Meksi pasar berada dalam pola konsolidasi dan cenderung sepi awal pekan ini, ada keyakinan likuiditas akan kembali masuk pasar setelah libur. Rupiah akan diperdagangkan pada kisaran 9.010-9.155 per dolar AS, katanya kepada
INILAH.COM.
Menurutnya, penguatan rupiah lebih disebabkan faktor dolar AS, yang sengaja dibuat melemah oleh pemerintah AS. Hal ini terlihat dari tindakan The Fed yang terkesan mengulur kenaikan suku bunga bank sentral, meski kondisi fundamentalnya cenderung membaik. Dalam pertemuan The Fed pekan lalu, belum dikatakan suku bunga harus dinaikkan. Mungkin pelemahan dolar dipertahankan, agar pasar saham membaik dan ekspor meningkat, lanjutnya.
Hal ini memicu pertumbuhan ekonomi AS lebih cepat. Situasi serupa juga dilakukan oleh Jepang, dimana pemerintah Negeri Sakura menggiring yen agar terus melemah sehingga ekspor tak terganggu dan saham menguat. Jepang menyatakan, kenaikan suku bunga belum diperlukan. Jepang ingin keluar dari deflasi yang telah cukup lama berlangsung, papar Teddy.
Alhasil, mata uang lain, termasuk rupiah pun menguat, karena dolar yang dipertahankan melemah. Hal ini terus berlangsung hingga AS mulai mengubah strategi moneter dan pertumbuhannya.
Sementara dari dalam negeri, tidak banyak faktor yang perlu diperhatikan, karena tidak banyak imbasnya ke rupiah. Penguatan mata uang domestik beberapa waktu lalu juga disebabkan penguatan dolar. Dalam jangka pendek, rupiah masih akan dipengaruhi pelemahan dolar, tandasnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (12/3) ditutup menguat 48 poin (0,521%) terhadap dolar AS menjadi 9.152/9.160. [vin/ast/mdr]