INILAH.COM, Jakarta - Pengamat intelijen dari Universitas Indonesia, Andi Wijayanto, melihat jaringan teroris berpotensi masuk ke semua lini melalui pendekatan individu. Termasuk birokrasi.
Pola yang dikembangkan adalah menawarkan ide-ide radikal lewat komunitas tertentu, misalnya pengajian.
Karena itu, jaringan teroris itu berpotensi masuk ke semua lini termasuk birokrasi pemerintahan. Pendekatan invidu bisa melalui istri, anak, sepupu atau keluarga terdekat dari orang yang akan direkrut dengan cara tradisional, katanya.
Salah satu contohnya ada pengungkapan jaringan teroris di Pamulang, Rabu (10/3). Salah satu tersangka adalah Fauzi, pejabat Kasubag TU di Puskesmas Karang Tengah, Tangerang.
Tersangka lainnya, Sofyan, diketahui pernah menjadi anggota Polres Depok berpangkat brigadir. Sementara satu lagi yang diamankan Densus 88 adalah Abu Haikal, yang bekerja sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.
Andi mengatakan, ketika teroris masuk dalam komunitas tertentu, maka kelompok teroris ini mencari celah terhadap individu yang bisa dengan mudah ditawarkan ide-ide radikal untuk dijadikan anggota baru.
Dalam sebuah komunitas, termasuk komunitas pengajian ada berbagai orang memiliki profesi yang berbeda. Teroris masuk dengan pendekatan seperti ini, paparnya.
Karena itu, saran Andi, agar anggota keluarga tidak terlibat dalam jaringan teroris ini, maka pihak keluarga harus memperhatikan anggota keluarganya yang tergabung dalam komunitas apapun.[*/ims]