INILAH.COM, Washington - Penjualan ritel AS mencatatkan kenaikan diluar ekspektasi, pada Februari lalu. Data tersebut memperkuat harapan akan pemulihan ekonomi.
Kendati data penjualan rmeningkat, para ekonom meminta untuk tetap berhati-hati, pasalnya pendapatan cenderung stagnan dan bursa kerja masih minim. Pendapat lainnya mengatakan, dengan tumbuhnya belanja ritel maka bisa disimpulkan konsumen semakin percaya diri untuk mengeluarkan uangnya.
Untuk Februari lalu, penjualan ritel naik 0,3%, berdasar data Departemen Perdagangan. Angka tersebut melebihi ekspektasi awal yaitu penurunan penjualan sebesar 0,2%.
Sementara penjualan otomotif mengalami penurunan 2% yang dipicu oleh permasalahan di Toyota. Dengan adanya penurunan tersebut, maka data penjualan ritel AS untuk Januari direvisi menjadi hanya mengalami kenaikan sebesar 0,1%, atau turun 0,5% dari data awal.
Diluar penjualan otomotif, penjualan ritel lainnya meningkat 0,8% untuk Februari lalu. Angka tersebut lebih baik dibanding ekspektasi ekonom yaitu kenaikan hanya sebesar 0,1%.
Para analis mengkawatirkan, apakah data belanja akan sustain sementara di sisi lain, data pengangguran masih terbilang tinggi pada bulan yang sama. Pada Jumat pekan lalu, data tingkat kepercayaan konsumen turun menjadi 72,5 untuk awal Maret. Februari lalu, data tingkat kepercayaan konsumen berada pada level 73,5.
Ekonom menilai, data belanja baik Januari maupun Februari disebabkan oleh naiknya pengembalian pajak dan kredit pajak yang dibayar pemerintah selama periode pengisian data pajak, termasuk stimulus dari pemerintah sebesar US$787 miliar.[mre/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !