INILAH.COM, Jakarta IHSG pekan ini diperkirakan bergerak melandai seiring posisinya yang berada di level-level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Pelaku pasar disarankan tidak terlalu agresif. Muhammad Alfatih, pengurus Asosiasi Analis Teknikal Indonesia (AATI) mengatakan potensi koreksi indeks pekan ini dipicu oleh posisinya saat ini yang sudah mencapai harga tertinggi pada pekan ketiga Januari lalu. Saat itu, harga tertingginya mencapai 2.689. Alhasil, indeks pun sudah kembali ke level tertinggi yang pernah terjadi selama dua tahun terakhir.
Menurutnya, dalam level-level tertinggi ini, pada umumnya market akan terjadi koreksi terlebih dahulu. Karena itu, indeks akan mengarah ke level
support pertama 2.665 dan 2.650 sebagai
support keduanya.
Sedangkan
resistance pertama berada di level 2.680 dan 2.720 sebagai level
resistance berikutnya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (14/3).
Pada perdagangan Jumat (12/3), IHSG

ditutup melemah 10,011 poin (0,37%) ke level 2.666,511. Indeks saham unggulan LQ 45 juga melemah 2,607 poin (0,50%) ke level 519,873.
Alfatih kembali memaparkan, pelaku pasar yang sempat membeli di harga tinggi pada pekan ketiga Januari lalu, mengalami
floating loss, ketika indeks terkoreksi. Sekarang, di saat indeks mengalami kenaikan kembali, mereka dipastikan akan melakukan
profit taking, timpalnya.
Apalagi, setelah penantian lama, investor tidak mau mengambil risiko. Sebab, dikhawatirkan saham yang dipegangnya akan turun kembali. Karena itu, banyak pelaku pasar yang menjual posisinya yang memicu koreksi indeks. Jumat (12/3), indeks turun di bawah level pembukaan, bahkan turun di bawah harga sebelumnya, ujarnya.
Namun demikian, menurutnya, tidak tertutup kemungkinan, di level-level
support indeks akan mengalami
rebound kembali. Apalagi, jika perbaikan
rating utang luar negeri RI menjadi BB+ oleh lembaga pemeringkat Standard & Poors, direspon positif oleh market.
Tren naik yang sudah terjadi sejak pekan kedua Februari bisa berlanjut, imbuhnya.
Syaratnya, indeks bisa menembus level
resistance 2.680 sebagai level psikologis.
Jika level
resistance itu ternyata bisa ditembus, kenaikan selanjutnya dalam jangka pendek-menengah ke arah level
resistance 2.720. Sebab, di sisi lain, potensi kenaikan indeks juga mendapat dukungan dari data
retail sales di AS yang naik 0,3%.
Hal ini bisa menambah peluang bagi kenaikan indeks akibat potensi market regional yang positif. Karena itu, koreksi yang ada hanya bersifat jangka pendek, ungkapnya. Sebaliknya, jika
rating tersebut belum direspon pasar, yang terjadi justru koreksi terlebih dahulu.
Dalam kondisi ini, menurut Alfatih, saham-saham yang perlu diperhatikan adalah PT Indosat (
ISAT) dan PT Perusahaan Gas Negara (
PGAS). Bisa juga
buy on weakness. Tapi, jangan terlalu agresif. Sebab, koreksi indeks belum bisa dipastikan hingga seberapa jauh, pungkasnya. [mdr]