INILAH.COM, Boyolali - Istri Zainudin alias Joko Sulistyo (32), Aulia Syahidah (20), mengaku pasrah jika suaminya memang salah satu tersangka teroris yang tertangkap di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
"Saya tidak pernah tanya kemana pergi suami saya. Kontak terakhir Tanggal 3 Maret 2010, setelah itu tidak tahu lagi," katanya saat ditemui di rumah mertuanya, Parinem, di RT 03/RW 07 Dukuh Jebol, Desa Donohudan, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, di Boyolali, Minggu (14/3).
Ia mengatakan, selalu tidak ingin membebani suaminya sehingga tidak pernah ikut campur dengan kesibukan Joko termasuk menanyakan kepergiannya. Namun, lanjut dia, dirinya mendapatkan firasat melalui mimpi sebelum Joko ditangkap petugas di NAD.
"Saya sudah mendapatkan firasat dalam mimpi, sepertinya diajak ke rumah yang besar oleh suami. Ternyata suami saya tertangkap polisi di NAD," ujar Aulia.
Pada kesempatan itu ia juga mengaku berasal dari Lamongan, Jawa Timur dan sebagai keponakan salah satu terpidana mati Bom Bali, Amrozi. Ia mengungkapkan, Zainudin sebagai nama lain Joko diperoleh saat ia tinggal di Filipina. Selama empat tahun Joko tinggal di Filipina, Thailand, dan Malaysia.
"Zainudin nama panggilan suami saya saat tinggal Filipina. Dia kembali ke Indonesia Tahun 2008," tutur Aulia.
Ia menjelaskan, berkenalan dengan Joko selama sekitar dua minggu dan selanjutnya menikah pada Januari 2009. Kini mereka memiliki anak berumur empat bulan bernama Hajar Haninatus Syahadah. Sedangkan ayah Joko, Parimen mengaku, kaget mendengar kabar anak bungsunya itu ditangkap polisi di NAD karena menjadi tersangka terorisme.
"Saya ini tidak tahu pekerjaan anak saya. Saya hanya tahu bahwa Joko pergi kerja ke Kalimantan," akuinya.
Ia menambakan, tidak tahu jika Joko terlibat jaringan terorisme. Parimen menyatakan, dirinya hanya bisa pasrah atas nasib anaknya selanjutnya. "Anak sekarang tidak bisa diberitahu, tidak menurut nasihat orang tua," katanya dalam bahasa Jawa.
Ia setiap hari bekerja sebagai pedagang bumbu dapur di Pasar Dibal, Boyolali. Joko, lulus SMA Al Islam I Solo pada 1995. Setelah itu, Joko melanjutkan kuliah Program Diploma 3 Jurusan Bahasa Inggris di Universitas Diponegoro Semarang.
Ketua RT 03/RW 07 Dukuh Jebol, Sutarjo, mengatakan, Joko yang terlihat pintar itu adalah warga asli pedukuhan setempat. Warga setempat, katanya, tidak menyangka bahwa Joko menjadi tersangka jaringan terorisme. [*/jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !