INILAH.COM, Jakarta - Saham komoditas masih mendapat rekomendasi seiring membaiknya ekonomi global. Turunnya permintaan China tidak akan menahan kebutuhan akan komoditas termasuk batubara.
Hal ini diungkapkan Budi Ruseno, analis dari Bhakti securities. Menurutnya, saham sektor komoditas, seperti perkebunan dan pertambangan masih mendapat rekomendasi positif. Salah satu pemicunya berasal dari membaiknya ekonomi yang mendongkrak permintaan. Sektor komoditas masih berpeluang bullish pekan ini, ujarnya, Senin (15/3).
Meskipun ada penurunan permintaan dari China, namun kebutuhan energi masih tetap ada. Alhasil, harga komoditas masih akan naik terbatas, berlanjut pada penguatan saham sektor ini. Ini adalah momen bagi investor untuk trading. Apalagi motor penggerak bursa masih berasal dari komoditas, paparnya.
Senada dengan VP Research & Analysis Valbury Nico Omer Jonckheere yang mengatakan, saham-saham berbasis komoditas belum akan ditinggalkan. Hal ini dipicu outlook atas harga minyak mentah dan CPO juga masih positif, didorong ekspektasi pemulihan ekonomi yang didukung sejumlah data-data terutama di AS dan Cina.
Menurutnya, harapan bantuan terhadap krisis anggaran yang dihadapi Yunani (atau Yunani meminta bantuan ke IMF), yang intinya menemukan jalan keluar untuk penyelesaian krisisnya, adalah salah satu sentimen positif lainnya.
Sedangkan analis Edwin Sebayang menjagokan dua emiten komoditas tambang yaitu PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) dan PT TB Bukit Asam (PTBA). Rekomendasi positif untuk ITMG berasal dari kenaikan kinerja yang cukup siginifikan pada 2009.
ITMG berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 42,83% menjadi US$335,55 juta dari sebelumnya US$221,74 juta, sehingga laba per saham naik dari US$0,21 menjadi US$0,30 per saham.
Kenaikan laba bersih didukung penjualan bersih yang naik 14,39% menjadi US$1,51 miliar di 2009. Sehingga laba usaha tumbuh 28,18% menjadi US$435,82 juta.
ITMG masih akan menguat dengan target harga mencapai Rp38.075, imbuhnya.
Demikian juga emiten tambang pelat merah PTBA, yang dinilai Edwin menarik terkait kinerjanya. Kami rekomendasikan PTBA dengan target harga Rp19.800, katanya.
PTBA melaporkan kenaikan laba bersih 2009 yang cukup signifikan sebesar 59,75% ke Rp2,727 triliun. Perusahaan mencatat pendapatan sebesar Rp8,947 triliun, naik 23,98%. Harga pokok penjualan tercatat sebesar Rp4,104 triliun, meningkat 11,34%.
Sedangkan Samuel Sekuritas memilih PTBA, terkait proyek rel kereta api Bangko Tengah-Lampung yang bila terealisasi, akan meningkatkan kapasitas angkut sebesar 20 juta ton dari sebelumnya 10 juta ton.
Target realisasi diperkirakan menjadi 2014, tertunda dari target semula 2012 karena baru mendapat izin dari Departemen Perhubungan pada November 2009 lalu. Kami masih merekomendasikan beli dengan target harga Rp20.200 per saham, imbuhnya.
PTBA kemungkinan akan merevisi nilai investasi proyek rel kereta api Bangko Tengah-Lampung dari perkiraan saat ini US$1,06 miliar. Meneg BUMN juga meminta PTBA mencari mitra baru dalam pengembangan proyek tersebut, bila konsorsium Transpasific Railway belum melaksanakan pengerjaan proyek.
Transpasific Railway merupakan konsorsium yang dibentuk untuk pengerjaan proyek tersebut yang terdiri dari PTBA, Grup Transpasific, dan China Railly Engineering. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !