INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan Senin (15/) Rupiah ditutup pada kisaran 9.165 atau melemah 15 poin dibandingkan penutupan pekan lalu di kisaran 9.150.
Hal itu disampaikan Direktur Currency Management Fahrial Anwar saat dihubungi INILAH.COM, Senin (15/3).
Fahrial mengatakan, rupiah sulit menembus kisaran 9.100 meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup positif pada kisaran 2.669. Fahrial melihat, Bank Indonesia intervensi agar rupiah tidak terlalu menguat.
"BI berkepentingan agar rupiah tidak terlalu menguat dengan alasan eksportir tapi di sisi lain cadangan devisa dalam dolar AS, sehingga rupiah dibuat tidak terlalu menguat" ujar Fahrial.
Ia menambahkan, sentimen luar negeri yang mempengaruhi rupiah yaitu dolar AS yang mengalami tekanan terhadap euro. Hal ini dikarenakan penyelesaian krisis ekonomi Yunani mengalami titik terang.
Rupiah akan berpotensi menguat dalam beberapa hari ke depan. Dana asing yang masih masuk ke Indonesia dalam jumlah besar akan memberikan sentimen positif untuk rupiah. "Rupiah ada potensi penguatan mencapai 9.100,"tutur Fahrial.
Untuk prediksi pada perdagangan Rabu (17/3), Fahrial meramal, pergerakan rupiah akan melihat kecenderungan di pasar modal. Asing masih masuk ke Indonesia untuk menikmati imbal hasil tinggi karena suku bunga yang menarik dan peringkat utang Indonesia membaik sehingga asing akan memburu saham. "Rupiah akan berada di kisaran 9.150-9.200," urainya. [san/cms]