INILAH.COM, Jakarta Bisa berubah dalam hitungan detik. Ekstrem, tapi mengarah faktual. Seperti itu kesan tentang Gus Dur di mata banyak orang. Soal islah dengan Muhaimin 'Cak Imin' Iskandar pun jadi pelabuhan baru kisruh PKB.
Entah karena aslinya berpembawaan begitu atau akibat pengaruh orang-orang di dekatnya, yang tampak di permukaan akhirnya memang Gus terkesan sulit dipegang. Cepat sekali ia berubah pikiran, sikap, dan omongan.
Kasus terbaru terkait islah, istilah lain bagi rekonsiliasi, di antara PKB Cak Imin dan PKB Gus Dur. Keduanya sedarah. Cak Imin adalah keponakan Gus Dur. Tapi, sekarang, menyatukan keduanya minta ampun susahnya.
Jauh sebelum konflik internal PKB diproses di PN Jakarta Selatan, lalu meningkat ke Mahkamah Agung (MA), wacana islah sebetulnya sudah digulirkan. Gus Dur tak menggubrisnya. Akhirnya, di PN Jaksel maupun MA, ia kandas.
Berbekal keputusan PN Jaksel dan MA, PKB Cak Imin melaju mantap di relnya menuju Pemilu 2009. Dari sisi legal, ia dalam posisi kuat. Nomor urut 13 sebagai tanda resmi kesertaan di Pemilu 2009 pun sudah didapat.
Surutkah Gus Dur?
Sama sekali tidak. Gus Dur tetap ngotot. Cak Imin, sekali lagi, mencoba mengetuk pintu hatinya dengan tawaran islah. Tapi, lagi-lagi, kyai besar pendekar demokrasi itu tak menghiraukannya. Gus Dur malah bilang begini, "Ia maling dan saya tak mau islah dengan maling!"
Sampai di situ, niat menyatukan kembali PKB seperti menemui jalan buntu. Padahal, bukan hanya Cak Imin dan pendukungnya, berbagai pihak di luar lingkaran PKB pun ikut menyuarakan islah.
Semua berangkat dari empati, dari kepedulian dan rasa sayang sekaligus kecemasan terhadap ancaman kehancuran PKB tanpa Gus Dur. Maklum, Gus Dur adalah pendiri yang kadung dianggap sebagai ruh dan simbol kebesaran PKB.
Tiba-tiba, tak ada angin dan tak ada hujan, terkuak lagi harapan kemungkinan terjadinya islah. Gus Dur dikabarkan mulai melunak. Kedengarannya ma' nyus, apalagi bagi kaum nahdliyin, warga NU (Nahdlatul Ulama) yang selama ini jadi basis massa PKB.
Ketika kabar melunaknya Gus Dur yang membukakan kembali harapan islah itu beredar, hitung-hitungan dari banyak sisi ikut mengemuka.
Dari sisi politis, PKB bersatu adalah sebuah kekuatan dahsyat di Pemilu 2009. PKB bersatu jauh lebih ampuh dalam menggaet suara ketimbang PKB yang terbelah dua. Juga melicinkan jalan Gus Dur menuju Pilpres 2009.
Di sisi lain, proses menuju islah itu sejatinya membuktikan masih mengalirnya semangat persaudaraan dan kebersamaan di antara Gus Dur, Cak Imin, dan keluarga besar PKB. Kebersatuan ini jadi teladan positif bagi generasi muda PKB dan publik di luar pagar PKB.
Mungkin, kabar menyejukan itu berkat perenungan Gus Dur di tengah malam pada hari-hari belakangan. Sebelum berangkat tidur, dalam kesendiriannya, ia merenungkan segala sebab dan akibat jika PKB, Cak Imin, kaum nahdliyin ia biarkan berjalan tanpa aura dirinya.
Pagi dan siang harinya, ketika Gus Dur bertemu dan bertukar pikiran lagi dengan orang-orang dekatnya, terjadilah pergumulan pendapat. Lalu, Rabu (23/7), tercetuslah ide mengajukan syarat islah kepada Cak Imin.
Syarat itu lebih kurang berbunyi: islah oke-oke saja asal jabatan Sekjen DPP PKB tetap jadi milik Yenny Wahid, putri Gus Dur. Dan, dalam proses islah, Cak Imin juga diminta menghampiri Gud Dur.
Mendengar ajuan itu, giliran Cak Imin kehabisan kesabaran sebagai keponakan yang tergolong berdarah muda. Dengan tegas ia menyatakan, lebih baik tidak usah islah jika harus sampai seperti itu.
Kamis (24/7) pagi, Cak Imin menyebutkan, jabatan Sekjen DPP PKB sah secara hukum diduduki Lukman Edy sesuai hasil Muktamar Semarang. "Prosesnya panjang dan melalui prosedur yang benar. Tidak bisa begitu saja ia digantikan," katanya.
Cak Imin juga keberatan dengan permintaan dirinya yang harus menghampiri Gus Dur. Dalam konteks ini, ia berpegang pada keputusan hukum. Pada Muktamar Semarang, PN Jaksel, dan MA.
Soal islah jadi pelabuhan baru kisruh PKB. Ada yang bersimpati, termasuk kepada Cak Imin yang dituding maling, ada yang mulai empet lantaran kisruh PKB dan orang-orang yang mengurusnya tak kunjung tuntas.
Suara-suara keras dan miring pun mulai bertebaran. Suara itu, antara lain, dicetuskan Agus Sulistiyono. Wakil Ketua PDW PKB DI Yogyakarta itu menyatakan, siapapun yang bertujuan merusak PKB, tidak usah diberi kesempatan islah. Ia tak bersedia menyebutkan nama. Yang pasti, katanya, di PKB ada perusak.
Suara itu mengindikasikan bahwa di dalam tubuh PKB hidup oknum yang berperan bak duri dalam daging. Bisa jadi oknum itu orang dekat seputar Gus Dur dan Cak Imin. Bisa disusupkan parpol lain agar PKB berantakan, bisa juga orang dalam yang bertipikal penjilat.
Kepada Gus Dur dan Cak Imin, tinggal satu kalimat yang pantas diucapkan: sadar dan waspadalah! Jangan mau diucek-ucek orang lain di luar mereka berdua. Orang yang bersuka ria melihat PKB kisruh. [I3]