INILAH.COM, Jakarta - Kasus Miranda Gultom menjadi bola liar di kandang banteng. Selain menyebut-nyebut Panda Nababan, nama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pun ikut terseret.
Korupsi berjamaah dalam kasus Miran Gultom-Agus Condro berbuah delima berantai karena menyeret nama-nama populer di kandang banteng. PDIP Perjuangan tersedak skandal ini karena menyangkut para elite partai itu sendiri.
Politisi PDIP yang juga mantan anggota Komisi IX DPR RI, Maximilian Williem Tutuarima mengaku mendapat perintah untuk memilih Miranda S Goeltom dari Panda Nababan, Sekretaris Fraksi PDIP di Komisi IX saat itu.
Sementara mantan Ketua Litbang PDIP Kwik Kian Gie mengungkapkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang memerintahkan kepada anggota DPR dari partainya untuk memilih Miranda Gultom.
Kwik menyatakan, perintah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memang menggoalkan Miranda saat berhadapan dengan Burhanuddin Abdullah pada pemilihan calon Gubernur BI.
Karena sudah ada sinyal dari Megawati, maka anggota DPR dari PDIP memberikan suaranya untuk memilih Miranda Gultom. Tapi tentunya tidak gratis begitu saja, tandas Kwik, mantan Menteri Koordinator Perekonomian ini.
Sebagaimana diketahui, sewaktu pemilihan Gubernur Bank Indonesia (BI) tiga nama bersaing yakni Burnahunddin Abdullah, Miranda Gultom dan Cyrilus Harinowo.
Yang juga menarik adalah pengakuan politisi PDIP yang juga mantan anggota Komisi IX DPR RI, Maximilian Williem Tutuarima. Max mengaku mendapat perintah untuk memilih Miranda S Goeltom dari Panda Nababan, Sekretaris Fraksi PDIP di Komisi IX saat itu.
"Pak Panda memperkenalkan Bu Miranda, inilah calon Deputi Senior Gubernur BI yang diusulkan PDIP. Maka saudara wajib memilih Bu Miranda (dalam fit and proper test). Itu Pak Panda yang bilang," ujar Williem menirukan omongan Panda ketika bersaksi bagi Dudhie Makmun Murod di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin(15/3).
Arahan itu, kata Williem, disampaikan Panda dalam pertemuan seluruh anggota fraksi PDIP Komisi IX di ruang Dharawati Hotel Dharmawangsa Sabtu 29 Mei 2004 silam, satu minggu sebelum pelaksanaan fit and proper test pada 8 Juni silam.
Dalam pertemuan itu tidak menyinggung soal rencana pemberian sesuatu yang berkaitan dengan pemilihan Miranda. Namun ia mengakui, tiga minggu setelah Miranda terpilih, menerima 10 lembar cek perjalanan total Rp500 juta dari Dudhie Makmun Murod di ruang kerjanya.
Williem mengaku baru tahu uang itu berkaitan dengan Miranda setelah dirinya diperiksa di penyidik KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). "Katanya (Dudhie saat pemberian cek) ini, ada bantuan dari partai untuk kampanye," ujar Williem.
Karena untuk kampanye, Williem mengaku uang itu dihabiskannya untuk kampanye, karena saat itu memang berbarengan dengan masa kampanye (2004-2009). Cek itu pun dicairkan kedua anak Wiliiem. Semua habis untuk membeli bendera, atribut untuk kampanye.
Bola panas kini bergulir ke partai berlambang kepala banteng moncong putih itu. Akankah bola panas ini juga menyeret para petinggi partai lainnya? Kita tunggu saja. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !