inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Nyepi untuk Perubahan Politik-Ekonomi

Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Ahmad Munjin
Selasa, 16 Maret 2010 | 07:04 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Perayaan hari Raya Nyepi tahun baru Caka 1932 jatuh pada 16 Maret 2010. Hari sakral ini, sejatinya bisa mewujudkan perubahan positif bagi persoalan sosial, politik, dan ekonomi.
Teolog Zaenun Kamal menilai, Nyepi merupakan momentum merenungkan secara individual atas dosa-dosa sosial, politik dan ekonomi. Karena itu, semua umat beragama berkewajiban menghormati Perayaan Hari Raya Nyepi.
Zainun Kamal,
Sebab, Nyepi merupakan hari yang sakral. Nyepi juga merupakan aktualisasi manusia atas kerinduan pada dirinya sendiri. Nyepi, merupakan wahana untuk melihat bagaimana kehiudpan sosial masyarakat, ekonomi, politik dan segalanya, papar Dosen Fakultas Teologi dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (15/3) malam.
Dengan momentum Nyepi, lanjut Zainun, penganut agama Hindu menarik diri sementara dari kegaduhan kehidupan. Menarik diri dari kehidupan dunia untuk merenung ke dalam diri (auto correction). Perjalanan hidup kita, benar atau salah, paparnya.
Karena itu, nilai-nilai yang terkandung dalam Nyepi, memberikan dampak sosial, politik dan ekonomi yang sangat penting. Dengan merenungkan dirinya sendiri, orang akan tahu semua kesalahannya dan beralih pada perbuatan yang baik. Sebab, kesalahan pada masyarakat bermula dari kesalahan diri masing-masing, timpal Zainun.
Bahkan, menurutnya, semua agama mengajarkan Nyepi, hanya saja menggunakan istilah dan praktik yang bermacam-macam. Sebab, semua agama merupakan ajaran sakral. Semuanya mengajarkan tentang kesucian dan spiritual yaitu kedekatan diri pada Tuhan. Untuk mendekatkan diri kepada Tuhan tidak mungkin tanpa kebersihan atau introspeksi diri sendiri, ungkapnya.
Termasuk juga membersihkan diri dari dosa-dosa sosial dan politik. Sebab, semua kesalahan dalam masyarakat atau suatu bangsa berpangkal pada kesalahan sendiri. Karena itu, Nyepi akan memberi dampak positif yang sangat besar, selama nilai-nilainya diaplikasikan secara benar, tandasnya.
Melakukan instrospeksi, pada Hari Raya Nyepi tahun baru Caka 1932 ini, untuk diaplikasikan dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Sebab, agama sebenarnya bukan untuk Tuhan melainkan untuk kemaslahatan manusia sendiri. Karena itu, melalui Nyepi, manusia melakukan perenungan atas dirinya sendiri, tuturnya.
Di sisi lain, I Ketut Wiana, pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) mengatakan, dalam sudut pandang sosial ekonomi, Nyepi merupakan media untuk jeda dalam aktivitas sekala. Untuk memberikan peluang pada eksistensi niskala atau niskalatma dalam diri.
Menurutnya, dalam diri manusia ada dua dorongan yang selalu bertarung untuk saling menguasai diri manusia. Ada kecenderungan keraksasaan yang disebabkan panca klesa dan ada dorongan kedewaan untuk mengutarakan citta. Panca klesa adalah pertama, awidya yang artinya kebodohan dan kegelapan.
Kedua, asmita yang artinya mementingkan diri sendiri atau egois. Ketiga, raga artinya suka mengumbar hawa nafsu. Keempat adalah dwesa mudah marah, membenci dan dendam, dan dan kelima abhiniwesa yang artinya adanya rasa takut.
Awidya itu adalah kegelapan. Kegelapan dapat ditimbulkan banyak sebab. Ia mencontohkan, orang dapat digelapkan hatinya oleh karena kaya (dhana), karena pintar (guna, karena fisik yang sempurna (cakap, cantik dan lain-lain) atau disebut surupa.
Karena berkuasa (wisesa); karena merasa muda (yowana); kula kulina karena merasa bangsawan; kasuran karena merasa sakti dan orang mabuk bisa juga karena minuman keras (sura). Hal itulah yang harus disepikan setiap saat apalagi bagi seorang pengusaha yang banyak berkecimpung dalam kancah panca klesa itu, imbuhnya.
Lebih jauh, I Ketut Wiana mengatakan jika seseorang dapat menguasai panca klesa itu, dalam menyusun bisnis plan maupun dalam melaksanakan rencana tersebut selalu dalam keadaan rasional penuh perhitungan dan pengendalian diri. Dengan menyepikan gejolak panca klesa dan panca indriya akan dapat membangkitkan kesadaran rohani yang kuat, ucapnya.
Kesadaran rohani itu akan dapat melihat berbagai kekurangan dan peluang-peluang untuk memperbaiki kekurangan dalam usaha bisnis dan lain-lain. Sesungguhnya menyepikan gejolak hawa nafsu itu dilakukan tiap hari, tidak harus menunggu hari raya Nyepi, pungkasnya. [mdr][[indosat]]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.