INILAH.COM, Lebak - Keluarga Jaja alias Pura Sudarma alias Umar Yusuf, tersangka pelaku terorisme yang ditembak mati di Nangroe Aceh Darussalam (NAD), menutup diri dari warga lainnya di Desa Sajira Barat, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten.
"Saat ini warga biasa-biasa saja melakukan akitivitas sehari-hari dan tidak terpengaruh oleh adanya pelaku terorisme," kata Atang, warga setempat, Senin (15/3).
Selama ini, ia mengatakan, masyarakat setempat tidak ada satu pun berada di kediaman Jaja alias Pura Sudarma sebagai pimpinan terorisme wilayah Banten. Kediaman rumah orangtua Jaja hanya ditemani beberapa anggota keluarga saja, sambil menunggu kedatangan jenazah dari Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur.
Keluarga mereka sejak dulu kurang bergaul dan menutup diri, karena berbeda keyakinan agama dengan warga setempat. "Saya sendiri meskipun terkait kerabat, tapi tidak begitu akrab dengan keluarga mereka," ungkap Atang.
Ia mengungkapkan, sebagian besar penduduk Desa Sajira Barat masih terkait saudara dari keturunan ibu Jaja, Eni, yang sudah meninggal dunia. Sedangkan, ayahnya, Yusuf, juga sudah meninggal dunia. Yusuf adalah kelahiran Solo, Jawa Tengah. "Dulu ayahnya bekerja di PJKA Rangkasbitung, namun diberhentikan karena terlibat gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI)," tuturnya.
Sejak dulu, menurut Atang, keluarga Jaja sangat berbeda keyakinan dengan tetangga, seperti masalah sholat berjamaah mereka belum pernah melakukan di masjid terdekat. Bahkan, dia mengharamkan sholat berjamaah di masjid. Untuk itu, kematian dia sebagai tersangka teroris yang tewas dalam penyergapan di Aceh Besar, ditanggapi dingin. "Kami awalnya merasa kaget karena Jaja masuk jaringan terorisme," ujarnya.
Dijelaskan dia, Jaja terakhir pulang ke kampung halaman pada 1994. Ketika itu dia menjabat sebagai direktur CV Sajira Multi Karya yang bergerak bidang jasa ekspedisi. "Saya tidak mengira Jaja sebagai pimpinan terorisme wilayah Banten, padahal sikapnya ramah, baik dan pandai juga sering membantu orang lain," katanya penuh dengan heran.
Sementara, keluarga Jaja yang berangkat ke Rumah Sakit Polri, Jakarta Timur, untuk mencocokkan identitas jenazah hingga kini belum ada kabarnya. "Saya belum menerima kabar kedatangan jasad jenazah Jaja dari Jakarta," kata anggota keluarga yang enggan disebutkan namanya. [*/jib]