INILAH.COM, Jakarta - Tidak seperti reseptor milik manusia, reseptor ular secara langsung merespon terhadap panas, memicu impuls saraf yang diinterpretasikan oleh otak mereka.
Sangat sulit mengetahui apa yang sebenarnya dilihat oleh seekor ular, tetapi satu asumsi bahwa tampilan dalam bentuk panas beberapa cara menggambarkan intensitas suhu tubuh dari sebuah obyek atau hewan lain, ujar David Julius dari Universitas California.
Tim Julius membandingkan aktivitas gen dalam tipe yang berbeda dari sel saraf tulang belakang ular derik yang memiliki lubang dangkal di wajahnya untuk mendeteksi panas.
Mereka menemukan bahwa dalam saraf yang terhubung dengan lubang tersebut terdapat sebuah gen yang disebut sebagai TRPA1 dan memiliki kemampuan 400 kali lebih aktif daripada bagian tubuh lainnya.
Gen tersebut membuat sebuah protein yang mengaktivasi sel-sel ketika unsur tersebut mendeteksi panas dari obyek dengan suhu lebih dari 27 derajat celcius.
Ular boa dan python memiliki molekul yang serupa di dalam moncongnya.[ito]