INILAH.COM, Jakarta - Bandara Internasional Ngurah Rai, satu-satunya pintu masuk Pulau Dewata lewat udara yang sehari-harinya melayani lebih dari 180 unit pesawat, pada Hari Raya Nyepi kali ini ditutup untuk yang ke-12 kalinya.
Penutupan sementara Bandara Ngurah Rai dan keempat pelabuhan laut selama sehari penuh, dilakukan sejak tahun 1999 sesuai surat keputusan (SK) Dirjen Perhubungan, Departemen Perhubungan Nomor AU 126961/DAU/7961/99, tertanggal 1 September 1999 yang diperkuat surat edaran Gubernur Bali Made Mangku Pastika tertanggal 29 Desember 2009.
Penutupan Bandara Ngurah Rai selama 24 jam untuk semua jenis penerbangan, baik domestik maupun internasional, selama ini berlangsung cukup sukses, aman dan tertib. Seperti saat Hari Raya Nyepi tahun-tahun sebelumnya, penerbangan domestik dengan tujuan akhir dan keberangkatan pertama dari Bandara Ngurah Rai ditiadakan.
Hal itu dilakukan mengingat penumpang tujuan Bali tidak akan bisa pergi ke mana-mana kecuali di bandara saja. Demikian pula jika mengangkut penumpang dari Bali, mereka juga tidak akan bisa mencapai bandara karena seluruh jenis kendaraan dilarang beroperasi di Pulau Dewata.
Sementara penerbangan internasional dengan tujuan akhir dan keberangkatan pertama di Bandara Ngurah Rai juga ditiadakan, kecuali penerbangan transit tetap diizinkan. Namun dilarang mengangkut penumpang tujuan akhir Denpasar, atau berangkat dari Denpasar, kecuali mengangkut penumpang transit yang sudah ada di bandara.
Penerbangan lintas technical landing dan emergency landing tetap diizinkan, namun awak pesawat dan penumpang harus tetap berada di wilayah Bandara Ngurah Rai selama umat Hindu mengurung diri melaksanakan Catur Brata Penyepian.
Selama Hari Suci Nyepi, menurut Kabag Publikasi dan Dokumentasi Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I Ketut Teneng, tidak ada keistimewaan bagi siapa saja untuk bisa menggunakan kendaraan bermotor, kecuali mendapat dispensasi yang dikeluarkan oleh Bendesa atau ketua adat terhadap warganya yang mendesak ke rumah sakit.
RSUP Sanglah Denpasar pada hari Nyepi tetap menyiagakan mobil ambulans dan satu tim pelayanan medis yang beranggotakan dokter, perawat, bidan dan tenaga non medis sebagai pendukung. [*/mut]