inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Inilah Sumber Dana Teroris Jaringan Dulmatin

Headline
istimewa
Oleh:
Selasa, 16 Maret 2010 | 12:44 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Penggalangan dana untuk kegiatan terorisme di Indonesia, rupanya berasal dari beberapa bisnis legal. Inilah polanya.

Informasi yang dihimpun dari tim analis Densus 88 di Mabes Polri menyebutkan, sumber pendaan terorisme di Aceh sebagian besar dilakukan melalui bisnis yang legal.

Disebutkan, donatur atau penggalang dana terbesar untuk kelompok Dulmatin adalah Jaja, teroris yang tertembak di Aceh.

Menurut sumber di Densus 88, di jaringan Dulmatin, Jaja sering disebut sebagai Ajengan Jaja.

Jaja yang tertembak di Leupung, Aceh Besar, Jumat lalu (12/3) adalah seorang yang kaya. Dia punya bisnis ekspedisi, tambak, dan perbengkelan.

Secara hukum, semua bisnis Jaja legal. Dengan dana pribadi Jaja itulah aksi terorisme Dulmatin disupport.

Salah satu perusahaan dan bisnis Jaja yang dipakai untuk mendanai teroris adalah CV Sajira Media Karya. Selama ini, perusahaan ini tak pernah dihentikan operasinya oleh polisi.

"Secara bisnis mereka sah, putus kontak dengan jaringan pendanaan teror ini. Itulah yang menyulitkan kami melakukan upaya hukum terhadap bisnis Jaja," kata sumber di Densus.

Sumber itu menyebut, sejak 2003 sebenarnya Jaja sudah masuk radar polisi. "Bahkan, saat konflik Ambon, nama ini sudah sangat terkenal di lingkungan intelijen," kata sumber itu.

Saat itu, 1999-2000, Densus 88 belum terbentuk. Dulmatin yang ahli dalam propaganda berhasil menarik Jaja menjadi donatur.

Dan, sejak menyatakan baiat ke Dulmatin, seluruh sumber dana dan jaringan Jaja tunduk pada komando Dulmatin.

Dana pelatihan teror jihad ala Dulmatin diindikasikan berasal dari empat jalur. Pertama, sisa dana ''jihad" Mindanao.

Dana ini sebagian berupa mata uang peso yang sudah diuangkan di Kota General Santos, Filipina.

Kedua, sumbangan faksi-faksi teroris di luar negeri yang disalurkan melalui jalur Malaysia, Thailand Selatan, dan Filipina. Sebagian uang dolar sudah diuangkan di money changer Menteng senilai USD 1.100.

Data yang ada di Densus 88 sendiri berupa cap keluar masuk check point Imigrasi di paspor atas nama Yahya Ibrahim.

Ketiga, dana sunduq (iuran) anggota jaringan. Besarnya bervariasi mulai Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah per orang.

Beberapa orang mengaku dikenakan kewajiban menyetor dana jihad dalam jumlah besar, tak peduli dari mana asalnya. Ini mengadopsi cara kelompok Negara Islam Indonesia dalam mengembangkan organisasinya.

Keempat, sumbangan donatur dalam negeri. Polisi mencurigai beberapa nama yang diduga memberikan sumbangan dalam jumlah besar.

Mereka ini, menurut sumber di Densus, tersebar di Jawa, Sulawesi, bahkan Kalimantan.

Sebagian dari nama yang ada dalam daftar polisi itu kini telah dipantau. Karena, tidak mungkin dilakukan penangkapan tanpa bukti yang cukup.[*/ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.