INILAH.COM, China - Cina pada Selasa melanggar tuntutan AS untuk memperkuat yuan, dengan mengatakan nilai tukar bukanlah penyebab terjadinya surplus perdagangan yang besar di China dan bersumpah akan tetap mempertahankan nilai tukar stabil untuk mendukung ekspor.
Mengutip Reuters, Beijing dan Washington tampaknya mengalami deadlock dalam sebuah dialog tertutup. Departemen Keuangan AS akan melaporkan pada 15 April sekaligus menentukan China telah memanipulasi nilai tukarnya untuk keuntungan perdagangan. "Kalau masalah kurs dipolitisasi, maka ini tidak akan membantu dalam menghadapi krisis keuangan global dalam koordinasinya dengan pihak-pihak terkait," kata juru bicara Kementerian Perdagangan China, Yao Jian dalam sebuah konferensi pers regulernya, Selasa (16/3).
Yao menolak berargumen bahwa surplus perdagangan China yang besar terhadap Amerika Serikat disebabkan yuan, yang dikenal sebagai renminbi, di mana ekonom AS melihat terjadi manipulasi angka menjadi 25 persen atau lebih undervalued.
"Surplus perdagangan bukan karena nilai tukar renminbi. Surplus perdagangan adalah fenomena globalisasi. Ini akan terjadi dalam beberapa waktu," katanya.
Komentar Yao ini diperkuat Perdana Menteri China Wen Jiabao dan para pejabat China lainnya, yang menekankan bahwa apa pun yang terjadi dalam nilai tukar, Beijing menyatakan tidak ingin ditekan pihak asing. Dengan adanya keputusan Departemen Keuangan Amerika Serikat, China akan menghadapi ujian berat dalam memutuskan kapan untuk menggerakkan mata uangnya.
Yao berbicara sehari setelah 130 anggota parlemen meminta agar Presiden AS Barack Obama mendapat tekanan dari China atas praktik mata uangnya, yang mereka katakan memotong daya saing perusahaan-perusahaan AS. "Dampak dari manipulasi mata uang China dalam perekonomian AS tidak dapat dilebih-lebihkan. Itu untuk menjaga mendevaluasi mata uang kurs untuk memberikan subsidi kepada perusahaan-perusahaan China dan secara tidak adil merugikan pesaing asing," kata legislator dalam sebuah surat mereka.
Perdana Menteri Wen pada Minggu membantah tudingan AS bahwa China telah memanipulasi nilai kursnya. "Penyesuaian dalam nilai tukar renminbi akan ditentukan berdasarkan kondisi ekonomi nasional, dan bukan karena tekanan pasar eksternal," ujar Sun Lijian, seorang ekonom Fudan University di Shanghai, China kepada Economic Times Selasa.
Yao mempertanyakan apakah China, yang memiliki defisit perdagangan dengan Jepang, Korea Selatan dan beberapa negara berkembang harus mengcopy Amerika Serikat dan mengeluarkan undang-undang untuk menangani negara-negara ini. "Jadi kami berharap bahwa dalam mengatasi krisis dan menghidupkan kembali perekonomian, Amerika Serikat harus menjadi promotor perdagangan bebas, bukan malah menjadi penghalang untuk itu," katanya.
Dalam perdagangan tahunan, AS dengan China turun menjadi US$226,8 miliar di tahun 2009, turun dari rekor US$$268 miliar pada tahun 2008. Ini dipicu adanya pelanggaran perjanjian yang dilakukan AS terhadap China mengenai pengiriman senjata ke Taiwan.
Wen pada Minggu berkomitmen agar China mendorong reformasi terhadap mekanisme nilai tukar yuan, membiarkan pintu terbuka untuk melakukan fleksibilitas nilai tukar jika itu sesuai untuk Beijing.
Mata uang China telah terus dipatok sekitar 6,83 yuan per dolar sejak bulan Juli 2008 untuk membantu eksportir, dan Yao, jurubicara Kementerian Perdagangan, mengatakan bahwa stabilitas akan tetap menjadi semboyan pada tahun 2010. "Kami tidak punya alasan sama sekali untuk melihat masa depan dengan pembukaan optimisme pasar," katanya tentang prospek untuk ekspor.
"Jadi kita akan mempertahankan kebijakan ekonomi dan perdagangan, termasuk kebijakan nilai tukar dan rabat pajak ekspor, stabil tahun ini," tambahnya. [cms]