INILAH.COM, Jakarta - Konflik AS-China terkait surplus perdagangan China akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia, termasuk pasar modal dalam jangka panjang.
"Ini karena Indonesia menganut free floating system, di mana kita tidak menahan mata uang, namun membebaskannya," prediksi Kepala Riset PT Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere saat bincang-bincang dengan INILAH.COM, Selasa (16/3).
Nico melihat, manipulasi nilai tukar yang akan melemahkan perdagangan dunia ini malah berbahaya untuk negara-negara yang berkembang. Namun, jika dilihat secara politis, tudingan AS kepada China ini lantaran AS tengah kesulitan dalam ekonominya seiring dengan melemahnya dolar.
"Nanti ini akan dijadikan ajang balas dendam AS. Namun, di belakang mereka baik-baik saja seperti panggung sandiwara," tukas analis yang gemar meramal ekonomi negara-negara hebat dunia.
Nico mengatakan tudingan AS ini sebetulnya sudah lama ditujukan ke China. Tudingan ini semakin memanas ketika China keukeh mempertahankan nilai tukar untuk mendukung ekspor. Dengan kuatnya nilai tukar ini akan menguntungan negara Beruang Panda tersebut.
"Lama-lama nanti AS akan mengevaluasi apa yang tengah dilakukan China dan sebaliknya," tuturnya. [san/cms][[indosat]]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !