INILAH.COM, Hong Kong - Saham di Bursa Asia pada perdagangan sesi I ditutup mixed karena para investor menahan diri sebelum Federal Reserve AS menyatakan penilaian terbarunya mengenai ekonomi AS.
Mengutip AP, harga minyak turun di bawah US$80 per barel, sementara dolar melemah terhadap yen dan euro. Kebijakan bank sentral AS pasca pertemuan Selasa (16/3) ini akan menjadi penentu arahan pasar. Diharapkan Fed masih memeprtahankan tingkat suku bunga rendah mendekati nol. Fed juga akan memberikan pernyataan kebijakan yang menjadi petunjuk bagi investor untuk mengetahui pemulihan ekonomi dan rencana-rencana untuk suku bunga. Di Asia, Bank of Japan juga tengah fokus untuk hal yang sama.
Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada 0,1 persen Rabu, meskipun adanya spekulasi bahwa akan ada kebijakan lain berupa memperpanjang program pinjaman dan langkah-langkah lain untuk pinjaman murah.
Rata-rata saham Nikkei 225 anjlok 30,27 poin atau 0,3 persen ke level 10.721,71. Di Hong Kong, Hang Seng juga turun 53,24 poin atau 0,3 persen ke level 21.025,86. Kospi Korea Selatan turun 1,49 poin atau 0,1 persen ke level 1.648,01. Di tempat lain, pasar Shanghai naik 0,4 persen, Australia naik 0,3 persen dan India's Sensex naik 0,1 persen. Dalam mata uang, dolar merosot ke 90,22 dari 90,46 . Euro lebih tinggi menjadi US$1,3681 dari US$1,3673. Harga minyak jatuh di Asia, dengan patokan minyak mentah untuk pengiriman April turun 2 sen menjadi US$79,78. Kontrak jatuh US$1,44 semalam.
Selama berbulan-bulan, Fed telah berjanji untuk menjaga sejarah bunga pada tingkat rendah untuk jangka waktu yang lama, membantu untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi dengan membebaskan lebih banyak uang bagi perusahaan dan pekerja untuk dibelanjakan.
Thomas Lam, seorang kepala ekonom di perusahaan jasa keuangan OSK-DMG di Singapura, mengatakan bank sentral tidak mungkin untuk mengubah secara substansial prospek suku bunga pada pertemuan hari Selasa.
"Saya tidak berpikir akan ada perubahan nyata dalam pernyataan The Fed nanti," kata Lam. "Ini bukan waktunya. Lingkungan masih belum cukup nyaman untuk mengubah retorika atau kebijakan."
Di Wall Street Selasa, Dow naik 17,46 poin atau 0,2 persen ke level 10.642,15, tertinggi sejak 19 Januari. Standard & Poor's 500 indeks naik 0,52 poin atau 0,1 persen ke level 1.150,51. Indeks berada pada tingkat tertinggi sejak 1 Oktober 2008. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !