INILAH.COM, Jakarta - Pertengkaran ibu dan ayah tiri Obama Junior jarang terjadi setelah lahir adik perempuan Obama, Maya. Meski, pada akhirnya ayah tiri dan ibu Obama harus mengakhiri hubungan mereka dengan perceraian.
Obama Junior sempat merasa tertekan ketika ibunya terus mendorong penyesuaian diri yang cepat di Indonesia. Meski, belakangan Obama berterima kasih karena hal itu membuat dia menjadi orang yang mandiri, tidak banyak menuntut dan sangat sopan bila dibandingkan anak-anak Amerika yang lain.
Di Indonesia, Obama diajari untuk mengabaikan gabungan antara kebodohan dan kesombongan yang sering menjadi ciri orang Amerika di luar negeri. Meski, ibu Obama Junior akhirnya menyadari bahwa dia tidak bisa memisahkan kesempatan hidup seorang Amerika dengan seorang Indonesia. Obama adalah orang Amerika, dan kehidupan dia sebenarnya ada di tempat lain.
Pelan-pelan, Ann Dunham kembali mengingatkan Obama akan cerita-cerita tentang ayah kandungnya: Barrack Obama Senior.
Bagaimana ayahnya tumbuh dalam keadaan miskin di negara miski, dan di benua yang miskin. Bagaimana hidupnya begitu keras, sama kerasnya dengan yang mungkin dikenal di Indonesia.
Namun, Barrack Obama Senior tidak main-main, juga tidak membabi-buta. Dia rajin dan jujur, apapun risikonya. Dia menjalani hidup sesuai dengan prinsip yang menuntut berbagai macam ketangguhan, prinsip-prinsip yang menjanjikan bentuk kekuasaan yang lebih tinggi.
"Kau mewarisiki alisku... ayahmu hanya memiliki alis kecil halus. Namun, kecerdasanmu, sifatmu, kau dapatkan dari ayahmu," kata Ann pada Obama Yunior.
Pesan Ann itu juga mencakup orang-orang kulit hitam pada umumnya. Obama mulai membaca cerita-cerita tentang gerakan hak-hak sipil. Saat Obama cerita tentang iring-iringan pasukan Pramuka Indonesia yang berbaris di depan Presiden, maka Ann akan menyebut barisan lainnya: barisan anak-anak sebaya Obama yang bergerak menuju kebebasan.
Bagi Ann, semua lelaki kulit hitam adalah Thurgood Marshal dan Sidney Poiter. Setiap perempuan kulit hitam adalah Fannie Lou Hamer atau Lena Horne. Menjadi orang berkulit hitam adalah menjadi ahli waris dari sebuah warisan besar, sebuah takdir khusus, beban mulai yang hanya orang kulit hitamlah yang kuat menanggungnya.
Beban inilah yang kemudian dijalani Obama dan ibunya dengan sebuah gaya. Dan, saat itulah Obama mulai membayangkan bahwa anak-anak kulit hitam, dulu dan sekarang, mengalami pengungkapan serupa.
Dan, masa-masa kecemasan itu berlalu sampai Obama akan meninggalkan Indonesia. Dia mulai memiliki kepercayaan diri yang tidak selalu benar dan bakat tak terbendung untuk berbuat kenakalan. Namun, dengan pandangan yang telah berubah.
Dia terus meyakinkan diri sebagai kulit hitam, meski dia sangat menyukai katalog Natal yang dikirim oleh kakek dan neneknya di Hawaii, tentu saja bahwa Santa adalah orang kulit putih.
"Aku masih mempercayai cinta ibuku. Namun, sekarang aku menghadapi kemungkinan bahwa pandangan ibuku tentang dunia, dan tempat ayahku di dalam dunia itu, ternyata tidak lengkap."[bersambung/ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !