INILAH.COM, Denpasar - Memasuki 'ngembak geni' atau sehari setelah Nyepi tahun baru Saka 1932, Rabu (17/3), suasana Bali mulai normal setelah sehari sebelumnya seluruh aktivitas dan perekonomian terhenti.
Masyarakat umat Hindu pada hari pertama setelah pelaksanaan 'Catur Brata Penyepian' dengan empat larangan, yakni tidak menyalakan api/lampu penerang, tidak bekerja, bepergian dan tidak bersenang-senang itu, berangsur-angsur normal meskipun sekolah dan instansi pemerintah dan sebagian swasta masih libur.
Masyarakat pedesaan, begitu bagun pagi umumnya secara spontan membersihkan bekas-bekas sesajen di pintu masuk pekarangan rumah masing-masing. Demikian pula pasar-pasar tradisional mulai banyak yang berjualan dan dikunjungi warga untuk membeli berbagai keperluan seperti kebutuhan dapur.
Petani yang seharian sebelumnya tidak bekerja, begitu bangun pagi dan sarapan ada yang langsung berangkat ke sawah mencari hijauan pakan ternak untuk sapi peliharaannya. Sebagian warga yang umumnya petani, juga memberikan makanan untuk ternak babi yang sehari sebelumnya tidak memperoleh pakan secara maksimal.
Petani di Dusun Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupten Tabanan, 27 km barat daya Denpasar, berusaha menyelesaikan pekerjaannya di sawah sebelum siang hari pukul 12.00 waktu setempat. Setelah itu mereka saling mengunjungi untuk bersilaturahmi sesama warga satu banjar, selain silaturahmi ke keluarga dan teman dekat.
Dengan demikian obyek wisata yang ada di kecamatan Marga itu tidak hanya dikunjungi masyarakat lokal, namun juga berasal dari masyarakat lainnya di Pulau Dewata dan wisatawan mancanegara. [*/mut]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !