INILAH.COM, Jakarta - Pembangunan BTS sebanyak 200 ribu unit untuk beberapa tahun ke depan tetap membutuhkan investasi asing, karena kemampuan pendanaan lokal masih belum mencukupi.
"Kalau pendanaan lokal, ya coba kalian lihat saja. Kalau mau pinjam paling ke Mandiri, BRI, atau BNI paling hanya dapat Rp3 triliun. Ini kan kebutuhannya Rp70-80 triliun per tahun. Ini kalkulasi sederhana," ujar Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Gita Wirjawan saat ditemui di Gedung Kementrian Koordinator bidang Perekonomian, Rabu (16/3).
Gita menuturkan, investasi asing masih sangat diperlukan, pasalnya untuk membangun 1 BTS dibutuhkan investasi sebesar Rp1 miliar. Untuk investor asing yang ingin menanamkan modalnya pada pembangunan BTS tidak harus menjadi investor mayoritas. "Dengan investasi 10 persen saja, akan sangat membantu terwujudnya 200 ribu BTS," ujarnya. Dibutuhkan waktu 5-7 tahun untuk mewujudkan 200 ribu BTS tersebut.
Lebih lanjut Gita mengatakan, sektor menara telekomunikasi masih mengganjal dalam penyelesaian revisi draf Daftar Negatif Investasi (DNI), karena adanya perbedaan persepsi antara Kementrian Komunikasi dan Infomatika dan BKPM. Kemenkominfo menginginkan agar menara telekomunikasi dikuasai oleh domestik, namun BKPM bersikukuh agar investor asing masuk di sektor ini.
"Kalau saya penyikapannya dari sisi bisnis, untuk kepentingan ikliminvestasi. Tapi dari sisi teknis mereka (Kemenkominfo) punya penyikapan berbeda," ucapnya. [mre/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !