INILAH.COM, Jakarta Usai libur sehari, siang ini indeks saham tampak sumringah. Saham-saham unggulan berkapitalisasi besar memimpin penguatan, sehingga bursa menembus level baru di 2.700. Pada perdagangan Rabu (17/3) sesi siang, IHSG

ditutup naik tajam 61,82 poin (2.32%) ke level 2.731,43. Indeks saham unggulan LQ45

juga naik 14.3699 poin (2,76%) ke level 534,1.
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai dengan volume transaksi tercatat mencapai 3,117 miliar lembar saham, senilai Rp2,769 triliun dan frekuensi 70.900 kali. Sebanyak 154 saham menguat, hanya 45 saham melemah, dan 68 saham stagnan.
Sementara transaksi beli asing (Net Foreign Transaction) juga tercatat cukup tinggi, sebesar Rp611 miliar, terdiri dari pembelian sebesar Rp1,061 triliun dan penjualan Rp449 miliar.
Semua sektor berkontribusi signifikan pada penguatan indeks dengan keuangan memimpin 3,66%, aneka industri 3,13%, manufaktur 2,08%, perdagangan 2,04%, industri dasar 1,91%, pertambangan 1,87%, infrastruktur 1,60%, perkebunan 1,37%, konsumsi 1,34%, dan properti 1,23%.
Beberapa emiten unggulan yang menguat antara lain Indo Tambang (
ITMG) naik Rp 1.850 ke Rp 36.000, Astra International (
ASII) naik Rp 1.400 ke Rp 40.050, Astra Agro (
AALI) naik Rp 600 ke Rp 25.000, PT Bank Central Asia (
BBCA) naik Rp 500 ke Rp 5.700, Gudang Garam (
GGRM) naik Rp 500 ke Rp 27.300, Bukit Asam (
PTBA) naik Rp 300 ke Rp 16.100 dan PT Bank Rakyat Indonesia (
BBRI) naik Rp 250 menjadi Rp 7.700.
Janson Nasrial, analis pasar modal dari AmCapital Indonesia memperkirakan. pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti akan menguat, seiring besarnya
net buy di pasar domestik. Indeks sudah memecahkan level
resistance di angka 2.730, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (17/3).
Aksi beli asing dipicu oleh The Federal Reserve yang belum memberikan sinyal kenaikan suku bunga acuan (
The Fed Fund Rate) dari level saat ini 0-0,25%. Hal ini terungkap dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dinihari waktu Indonesia. Karena itu, asing berbondong-bondong masu ke
emerging market termasuk Indonesia, ujarnya.
Pertemuan The Fed memang ditunggu-tunggu pasar. Setelah The Fed menentukan sikapnya, investor pun langsung bereaksi dengan melakukan aksi beli. Sebelum penutupan sesi siang,
net buy asing sudah mencapai Rp600 miliar.
Keadaan ini mendapat dukungan dari fundamental makro ekonomi Indonesia yang sangat positif.
Salah satunya dari data pertumbuhan ekonomi RI ke depan yang diperkirakan mencapai 6% tahun ini. Bahkan bisa lebih dari itu, timpalnya.
Di sisi lain, data inflasi pun masih terkendali. Artinya, jika BI akan menaikan suku bunga, harus menunggu hingga kuartal ketiga atau keempat tahun ini. Pada saat yang sama, rupiah sangat kuat ke level 9.115. Ini juga mendapat topangan dari cadangan devisa RI yang hampir mencapai US$70 miliar, ungkapnya.
Karena itu, semua sektor menjadi penggerak indeks hari ini. Namun, sektor perbankan dan pertambangan mendominasi penguatan.
Dalam kondisi ini, di mana kenaikan indeks sangat tajam, Janson lebih cenderung merekomendasikan saham-saham berkapitalisasi kecil (
second liner). Saham-saham pilihannya adalah PT Gozco Plantation (
GZCO), PT Bumi Serpong Damai (
BSDE), PT Ramayana Lestari Sentosa (
RALS), PT Telkom (
TLKM), dan PT Mayora Indah (
MYOR). Karena kenaikannya sudah tinggi, saya rekomendasikan
buy on weakness untuk saham-saham tersebut, pungkasnya. [ast/mdr]