INILAH.COM, Jakarta Saham sektor finansial masih mendominasi bursa usai libur sehari. Keputusan The Fed memperlama suku bunga rendah serta upaya emiten sektor ini mencari pendanaan menjadi katalis positif.
Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan, melejitnya saham sektor perbankan berhasil mendongkrak penguatan indeks siang ini. Salah satu amunisi berasal dari laporan keuangan 2009 yang masih positif.
Saham-saham perbankan masih diminati pemodal asing maupun lokal," ujarnya di Jakarta, Rabu (17/3). Di tengah kondisi ini, Domu merekomendasikan beberapa saham sektor finansial seperti PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Danamon (BDMN), dan PT Bank Mandiri (BMRI). Masih ada peluang penguatan lebih lanjut pada emiten-emiten ini, katanya.
Bursa saham pada pertengahan sesi naik tajam 2,32% menembus level 2.700. Transaksi beli asing (Net Foreign Transaction) juga tercatat cukup tinggi, sebesar Rp611 miliar. Semua sektor berkontribusi signifikan, dengan sektor finansial memimpin kenaikan sebesar 3,66% ke level 329,07.
Sentimen positif sektor finansial berasal dari rencana beberapa emiten mencari pendanaan baru. Misalkan saja BBNI yang diperkirakan dapat melaksanakan rights issue pada semester kedua 2010, terutama bila Menteri Keuangan dan DPR menyetujui privatisasi bank tersebut tahun ini.
BBNI menargetkan perolehan dana dari rights issue hingga Rp6 triliun. Selain itu, perseroan juga berencana menerbitkan subdebt senilai Rp1-2 triliiun.
Terkait hal ini, Samuel Sekuritas menuturkan, penambahan modal ini dapat mendongkrak pertumbuhan kredit di atas 20%. Sebaliknya, bila tidak dilakukan penambahan modal tahun ini, maka kredit BBNI hanya tumbuh maksimal 15%.
Penambahan modal ini juga akan menambah kepemilikan saham publik menjadi 40%, sehingga tax rate yang dibayarkan BBNI menjadi lebih rendah dari 30% menjadi 25%. Saat ini BBNI diperdagangkan discount dari sektor dengan price to book value (PBV) 2010-2011 yang diperkirakan sebesar 1,4-1,2 kali, ketimbang PBV sektor sebesar 2,3-2 kali.
Emiten lain yang berencana melaksanakan right issue tahun ini adalah BMRI. Dengan rights issue hingga free float 40%, perseroan mendapatkan insentif pajak dari 30% menjadi 25%.
Bila hal ini terealisasi, maka perseroan akan membatalkan penerbitan subdebt denominasi dolar senilai US$200-300 juta. Rencana penerbitan obligasi yang telah disampaikan kepada BI tersebut, sedianya akan dilaksanakan pada semester kedua 2010.
Sementara Samuel Sekuritas memberi rekomendasi positif untuk aksi korporasi BMRI. Saat ini saham BMRI diperdagangkan pada PBV 2010-2011 sebesar 2,3-2 kali, lebih rendah dari BBRI 2,7-2,3 kali dan BBCA 3,7-3,2 kali. Target harga kami sebesar Rp5.800/saham. Rekomendasi beli untuk BMRI, imbuhnya.
Menurutnya, untuk mencapai free float 40%, jumlah saham yang diterbitkan dalam rights issue BMRI diperkirakan sebanyak 2,37 miliar lembar. Ini berarti, peningkatan modal ini tidak akan memberi dampak signifikan pada return on equity (ROE), karena kenaikan jumlah modal dikuti kenaikan laba bersih akibat penurunan tax expense (ROE 19,5% vs current estimate 19,9%).
Di sisi lain, Trimegah Securites secara teknikal masih memberi rekomendasi beli di harga rendah untuk BDMN. Menurutnya, setelah gagal dalam pembentukan pola symetrical triangle, perseroan bergerak pada trading range 4.875-5.350, dengan volume yang terus menurun dalam empat hari terakhir.
Sementara itu, stochastic yang bergerak mendekati area oversold, mulai berbalik arah dan berpotensi menimbulkan minat beli di pasar. Rekomendasi dari kami adalah buy on weakness pada level support di sekitar 4.975-5.000, ujarnya. [mdr]