INILAH.COM, Jakarta - Kesadaran Ann Dunham, diyakini terjadi saat memutuskan bahwa Obama Junior harus kembali ke Hawaii. Bahwa, untuk memahami dunia, seseorang tidak harus mengubah diri menjadi Indonesia, atau mengingkari Amerika. Setiap orang punya tempat sendiri untuk mencapai cita-citanya.
Obama Junior bercerita, bagaimana cemas dirinya saat harus meninggalkan Indonesia. Dia merasa akan tinggal bersama orang asing di Hawaii, meski orang itu adalah kakek dan neneknya.
Janji sang ibu, bahwa ibu, adiknya Maya akan segera menyusul ke Hawaii setelah setahun lagi tinggal di Indonesia, membuat Obama Junior menerima pilihan itu.
Obama meninggalkan Indonesia menuju ke Hawaii tahun 1971. Dia kemudian tinggal bersama Madelyn dan Stanley Armour Dunham, dan melanjutkan sekolah di Punahou School pada grade kelima.
Apa yang terjadi, tentu bukan mimpi baru. Tapi, kenyataan bahwa kakek dan nenek Obama, bukan lagi seperti dulu. Bahwa, keduanya juga memiliki masalah yang sama dengan ayah tiri dan ibu Obama Junior di Jakarta: ekonomi.
Saat masih di Hawaii, Obama masih sempat tinggal di rumah kakek-neneknya yang besar di Honolulu. Ada pekarangan untuk berkebun. Tempatnya strategis dan rimbun di dekat sebuah Universitas. Stanley, sang kakek, memiliki bisnis meubel yang bagus.
Tentu saja, kehadiran Obama adalah hal lain bagi Stanley dan Toot, begitu Obama memanggil neneknya, Madelyn. Pernikahan Ann yang kulit putih, dan Barrack Obama Senior yang berkulit hitam, bukan hal yang cepat untuk diterima.
Obama Junior menulis:"Tentu, aku adalah cucu yang tadinya tidak diharapkan kelahirannya."
Dan, kini Obama yang masih kecil, dan baru menjalani masa penyesuaian di negeri jauh bernama Indonesia, harus menghadapi kenyataan baru.
Bahwa, kakek dan neneknya hanya mampu menyewa sebuah apartemen kecil dengan dua kamar di sebuah gedung bertingkat, di kawasan Jalan Beretania, Honolulu, Hawaii.
Obama Junior harus belajar memahami, bahwa sang kakek kini, hanya seorang agen penjualan asuransi, yang sebenarnya dia sendiri tak yakin dengan asuransi.
Penopan utama dalam keluarga tak lengkap itu, kakek-nenek-cucu, hanya Toot. Nenek Obama Junior itu seorang wanita yang memilih menjalani hidup sebagai perjuangan.
Selama bertahun-tahun, dia bekerja di sebuah bank lokal dengan karier yang dirintis selama bertahun-tahun sebagai pegawai yang rajin.
Toot adalah Wakil Presiden di bank itu, yang menduduki posisi itu karena tanpa pendidikan tinggi. Di rumah itu, Toot menjadi penopang ekonomi dengan gajinya yang lebih tinggi dibanding kakek Obama Junior.
Obama sangat mengagumi sang nenek. Dia menggambarkan sang nenek sebagai wanita yang menjalani hidup dengan disiplin dengan mimpi yang dia bangun sendiri, tanpa pernah mengeluh.
Toot bangun jam lima pagi. Membereskan urusan rumah, dan pergi ke kota untuk bekerja sebelum orang lain datang. Dia jarang mengeluh soal pekerjaannya, dan sering bercerita tentang hal-hal di balik berita keuangan.
Sampai kemudian, sang nenek Toot mengungkap tentang mimpi dia yang sebenarnya. "Dia selalu bermimpi tentang sebuah rumah dengan tiang putih. Hari-harinya dihabiskan dengan memasak kue atau bermain kartu bridge, atau menjadi sukarelawan di sebuah perpustakaan."
Dan, Toot sang nenek, tak pernah mendapatkan itu. Ini karena kebutuhan sang cucu, Obama Junior yang harus ditanggung.
"Hal yang paling penting dalam hidup adalah, memastikan bahwa anak-anak dalam keadaan baik-baik saja,'' kata Toot, yang selalu dikenang oleh Obama Junior.[bersambung/ims]