INILAH.COM, Tokyo Bursa Asia melonjak ke level tertinggi dalam dua bulan terakhir pada perdagangan Rabu (17/3). Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga di level rendah, menjadi katalisnya. Indeks MSCI Asia Pasifik (APAC) naik 1,5% ke 124,76 di Tokyo, dengan rasio delapan saham naik untuk setiap satu yang turun. Ini adalah level tertinggi sejak 19 Januari lalu. Dengan demikian, indeks ini menguat 9,3%, setelah berada di level terendah pada 8 Februari lalu.
Rally indeks telah mengangkat harga rata-rata per saham hingga 18,9 kali estimasi pendapatan. Cukup tinggi ketimbang indeks MSCI World dari 23 negara maju, yang hanya naik 15,1%.
Pemulihan ekonomi global yang terlihat dari biaya pinjaman dan belanja negara rendah, membangkitkan optimisme investor akan peningkatan laba korporasi. Berdasarkan data yang dikumpulkan
Bloomberg, rata-rata estimasi pendapatan tahunan emiten-emiten di MSCI APAC naik 3,1% pada empat pekan terakhir.
Chris Hall, analis dari Argo Investments di Australia mengatakan, langkah yang saat ini dilakukan sejumlah pemerintah, terutama keputusan Bank Sentral AS The Fed, membantu berputarnya roda pemulihan ekonomi global.
Sangat jelas, The Fed ingin tingkat suku bunga mengakomodasi pertumbuhan ekonomi dan Jepang pun melakukan hal serupa untuk mempermudah kredit. Inisiatif ini merupakan bukti kedua negara itu berusaha mengatasi masalah, katanya kepada
Bloomberg, Rabu (17/3).
Indeks S & P / ASX 200 naik 1,2% di Sydney, indeks Taiex di Taiwan naik 2% dan indeks Hang Seng di Hong Kong naik 1,8%. Sedangkan indeks Kospi di Korea Selatan naik 2,1%, terbanyak sejak 10 September 2009. Penguatan ini telah menutupi koreksi sejak awal tahun. Di Korea, Korea Life Insurance Co., menikmati hari pertama penjualan saham dengan kenaikan 7,9% dan menjadi penawaran saham perdana (IPO) terbesar di negara itu selam empat tahun terakhir.
Demikian pula indeks Nikkei Jepang yang naik 1,2%, seiring aksi Bank Sentral Jepang (BoJ) yang menggandakan kredit tiga bulanan menjadi 20 triliun yen (US$222 miliar). Yen pun menguat ke 90,03 per dolar AS dari pembukaan di 90,32. Sedangkan terhadap euro, Yen juga menguat menjadi 124,09 dari 124,35.
Kebijakan pemerintah Jepang sekaligus membubungkan saham operator situs belanja Jepang, DeNa Co., hingga 11% ke 698 ribu yen, merupakan kenaikan terbesar di indeks MSCI APAC. Perusahaan tersebut baru memproyeksikan pendapatan bersih tahunan akan naik 24%.
Perusahaan teknologi, seperti Intel Corp., juga menikmati kenaikan. Produsen semikonduktor terbesar dunia ini, baru saja merilis chip server terbaru. Hal ini menumbuhkan optimisme akan adanya permintaan, sehingga sahamnya naik 4%.
Produsen
memory chip terbesar dunia, Samsung Electronics Co., juga naik 4,3%. Hynix Semiconductor Inc. naik 2,3%. Demiian pula produsen
memory chip komputer terbesar Jepang, Elpida Memory Inc., naik 1,6% setelah indikasi perusahaan yang terus merugi ini mulai membukukan laba operasional.
Harga minyak naik 0,6% ke US$82,19 per barel, menyusul para menteri OPEC yang mengindikasikan akan mengurangi kelebihan produksi minyak. Sementara Menteri Perminyakan Arab Saudi, negara penghasil minyak terbesar OPEC, Ali Al Naimi mengatakan, harga saat ini sudah berada di kisaran yang tepat.
Demikian pula harga minyak mentah berjangka naik 0,5%, melanjutkan kenaikan 2,4%R di New York kemarin. Ini adalah penguatan terbesar dalam empat pekan. Indeks logam di London Metal Exchange, termasuk tembaga dan seng, meningkat 1,3% kemarin.
"Harapan bahwa suku bunga akan tetap rendah di AS yang mendorong permintaan atas komoditas," kata Hiroichi Nishi, manajer ekuitas pada Nikko Cordial Securities Inc di Tokyo.
Naiknya harga minyak mentah menguntungkan sejumlah perusahaan pertambangan. Seperti penambang terbesar dunia, BHP Billiton Ltd. yang naik 1,3% ke A$43,30 di Sydney. Nippon Mining Holdings Inc. naik 3,7% ke 454 yen di Tokyo.
Di Jakarta, saham PT International Nickel Indonesia (
INCO) naik 3,8 ke Rp4.075 setelah futures nikel naik 1,6%. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 2,6% atau penutupan tertinggi sejak 28 Februari lalu. Saham peritel otomotif terbesar, PT Astra Internasional (
ASII) naik 5,7% ke Rp40.850 yang terbantu akibat penurunan biaya impor mobil dan suku cadang karena rupiah menguat. [ast/mdr][[indosat]]