INILAH.COM, Jakarta- Obama pernah berjanji saat pidato di Mesir. Bahwa, dia akan memperbaiki hubungan Amerika dengan Islam.
Janji ini disampaikan Obama setelah menjadi Presiden, di Universitas Kairo, Mesir, 4 Juni 2009.
Obama menjanjikan, kerjasama kedua pihak akan dapat menumbangkan segala bentuk kekerasan ekstremisme di seluruh dunia dan menegakkan perdamaian di Timur Tengah.
Pernyataannya menyejukkan:Siklus kecurigaan dan pertentangan ini harus diakhiri."
Obama juga mengatakan sikapnya tentang stereotipe-stereotipe yang muncul belakangan ini, yang sering mengaitkan terorisme dengan Islam.
Menurut Obama, stereotipe tersebut harus dihilangkan. "Saya menyadari, menjadi tanggung jawab saya sebagai Presiden AS untuk melawan stereotipe negatif tentang Islam," kata Obama.
Pandangan yang sama, lanjut Obama, juga harus dilakukan dalam melihat Amerika.
Ketika itu, presiden AS pertama dari kulit hitam itu sempat mengutip ayat Al Quran ketika mengatakan bahwa Islam mendukung perdamaian.
Menurut Obama, Islam bukan penghalang untuk melawan ekstremisme.
Nah, janji itu diucapkan hampir setahun lalu. Karenanya, saat ini harusnya Obama ditagih untuk membuktikannya.
Apa yang diucapkan Obama hanya retorika belaka, ujar Sekjen Forum Umat Islam (FU) Muhammad Al Khatat.
Menurutnya, tindakan Amerika menindas dan menjajah negeri berpenduduk Muslim masih berlanjut di bawah kepemimpinan Obama.
Bagaimana tidak, Obama bahkan menambah pasukan AS di Afganistan sebanyak 30 ribu orang. Dengan demikian, tentara AS yang menduduki Afganistan masih berjumlah 140 orang, kata Al Khatat.
Jadi, dalam pandangan Sekjen FUI ini, belum ada sedikitpun realisasi ucapan Obama mengenai perbaikan hubungan Amerika dengan Islam.[yan/ims]