INILAH.COM, Jakarta - Konflik PKB dinilai J Kristiadi, pengamat politik dari CSIS (Central for Strategic and International Studies), berawal karena selama ini KH Abdurrahman Wahid selalu menjadi kekuatan yang dominan. Sehingga tak memberi kesempatan kepada yang lebih muda untuk tampil.
"PKB itu terlalu sempit untuk Gus Dur. Sehingga sumpek, gerah, berkelahi terus. Mulai Matori, Alwi Shihab, Saifullah Yusuf, hingga Muhaimin," kata Kristiadi, usai diskusi publik 'Gejolak Harga dan Risiko Politik Pemerintah, di Sekretariat Barindo, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu (26/7).
Menurutnya, baik kubu Muhaimin maupun Gus Dur harus mengembalikan kekuasaan rakyat yang dipercayakan pada PKB. Sehingga, sangat penting untuk mengesampingkan persoalan dan sentimen-sentimen konflik internal.
"Partai itu dipimpin oleh wali. Orang yang tidak hanya populer di Indonesia, begitu juga di internasional," ujar Kristiadi.
Lebih jauh, Kristiadi mengkritik Gus Dur yang selama ini selalu mendominasi setiap pengambilan keputusan di PKB, tanpa memberi kewenangan lebih banyak pada golongan muda.
"Ketika Gus Dur menjadi kekuatan dominan, semua silau. Sebab Gus Dur can do no wrong (tidak pernah salah)," tandasnya.[R2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !