INILAH.COM, Jakarta - Ekspektasi permintaan batubara dunia di masa depan, telah membawa spekulasi pergerakan saham tambang, terutama yang bisa meningkatkan produksinya. Bagaimana potensi ADRO? Suryadi Chandra dari AM Capital mengatakan, pergerakan saham batubara masih menarik. Namun, untuk jangka pendek
rally sektor ini sudah berakhir, termasuk untuk saham PT Adaro Energy (ADRO).
Pada jangka pendek, saatnya
switch dari saham batubara, ujarnya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (17/3) petang. Hal ini, lanjutnya, disebabkan rencana China menaikkan suku bunga acuannya.
Menurut Suryadi, pekan lalu negara ini sudah melakukan sejumlah aksi untuk memperketat likuiditas. Semua hal tersebut merupakan sinyal China akan meredam pertumbuhan. Terlihat dari berkurangnya permintaan pada sektor komoditas, termasuk batubara, ulasnya.
Saham PT Adaro Energy (
ADRO) pada Rabu (17/3) ditutup naik Rp50 (2,7%) ke level Rp1.920 per lembarnya. Perdagangan mencatat volume transaksi sebesar 388 ribu lembar saham, senilai Rp370 miliar dengan frekuensi 3.496 kali.
Sementara Bagus Hananto, analis pasar modal dari NISP Sekuritas memprediksikan, saham batubara masih berprospek menarik. Hal ini terkait ekspektasi bahwa hingga dua tahun ke depan, pasar
thermal coal terus bersaing ketat, katanya.
Menurutnya, akan ada banyak permintaan dari India dan China, sementara negara produsen masih mengalami kendala infrastruktur untuk produksi batubara. Kondisi ini pun membuka peluang bagi produsen, terutama yang bisa menaikkan produksi batubara untuk mendapatkan kenaikan pendapatan dari penjualan. Salah satunya adalah ADRO, ujarnya.
Bagus menilai, ADRO memiliki kemampuan kuat untuk meningkatkan produksi. Apalagi ADRO akan segera mengumumkan kontrak untuk infrastruktur conveyor di daratan yang mengecilkan biaya distribusi. ADRO punya kemampuan untuk meningkatkan produksi yang tahun ini ditargetkan mencapai 80 juta ton, paparnya.
Potensi ADRO ini juga diakui Andreas Bokkenheuser dari UBS Securites. Menurutnya, perseroan bisa menambah pasokan karena memiliki
cashflow yang kuat. Juga karena emiten ini berencana mengakuisisi Maruwai yang secara otomatis akan meningkatkan kapasitas produksi.
Meski belum akan terealisasi, kemungkinan besar ADRO bisa mengakuisisi tambang tersebut. Hal ini mengingat aset Maruwai lokasinya berdekatan dengan pertambangan dan infrastruktur ADRO. Selain itu, lobi politik ADRO cukup kuat karena menggandeng pemerintah lokal yang memang menjadi prasyarat akuisisi, katanya. [ast/mdr]