INILAH.COM, Jakarta - Antmosfir konflik antar dua kubu di PKB, sepertinya bakal luntur. Sebab, salah satu dari kedua belah pihak telah memberikan sinyal untuk menyerahkan sepenuhnya konflik PKB ke PBNU.
Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hasil Muktamar Luar Biasa (MLB) di Parung Zannuba Arifah Chafshoh atau Yenny Wahid mengatakan, mengenai masa depan PKB ia akan mengikuti arahan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
"Pokoknya kita 'manut' (menurut) pada PBNU," kata Yenny usai bertemu Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Rabu (17/3).
Yenny menemui Hasyim ditemani mantan anggota DPR dari PKB Masduki Baidhowi, yang juga mantan wakil sekjen PBNU. Menurut dia, ia menemui Hasyim guna meminta izin PBNU untuk menggunakan ruangan di lantai satu gedung PBNU yang selama ini menjadi kantor Gus Dur sebagai perpustakaan dan meminta arahan.
"Ada titik temu PBNU dengan kami untuk menata bersama PKB," tutur puteri kedua pasangan Gus Dur-Shinta Nuriyah tersebut.
Ia mengungkapkan, PBNU bisa memfasilitasi dengan mengundang seluruh stake holder PKB untuk membicarakan masa depan partai itu, termasuk terkait upaya rekonsiliasi di tubuh PKB. "Kami menyambut baik inisiatif kultural dan struktural NU mengenai wacana rekonsiliasi," ujarnya.
Dijelaskan Yenny, pihak PKB Gus Dur tidak mengajukan berbagai persyaratan untuk rekonsiliasi. Pihaknya hanya menginginkan kehormatan Gus Dur dikembalikan dengan mengembalikan posisinya sebagai Ketua Umum Dewan Syura PKB. "Soal posisi lain bukan hal besar," imbuh mantan staf khusus presiden itu.
Mengenai wacana pembentukan partai baru oleh pendukung PKB Gus Dur, Yenny menjawab diplomatis. Menurutnya, secara prinsip NU butuh partai sebagai penyalur aspirasi. "Sekarang banyak partai yang mengklaim mewakili NU, ini tentu membuat para kiai bingung. Ini bisa masuk dalam perbincangan pemangku kepentingan (stake holder) PKB nanti," tandas Yenny. [*/jib]