INILAH.COM, Jakarta - Sebagai eks pejuang Afghanistan, perkenalannya dengan sesama pejuang tak bisa dihindari. Termasuk di dalamnya adalah Syaefudin Zuhri dengan Dulmatin, yang tewas dalam kontak tembak di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.
Tsabit alias Sugeng alias Abu Lubaba, adalah nama lain dari Syaefudin Zuhri. Dia mulai mengenal organisasi Islam NII sejak masuk di Madrasah Aliyah.
Semenjak itu, ia aktif mengikuti pengajian di luar pondok pesantren, di antaranya di Purwokerto di Komplek Kampus UNSUD (Universitas Sudirman). Di situlah dirinya bertemu dengan salah satu pengurus bernama Heri.
Materi pengajian yang didapatkan adalah tauhid, sejarah nabi, dan jihad yang sedang marak di Palestina. Sedangkan yang sering mengisi tausiah dalam pengajian tersebut adalah Heri, Agus Sanjaya dan ustad lainnya.
Kemudian, pria kelahiran Cilacap ini ditawari Heri berangkat ke Afganistan untuk berjihad, yang ketika itu Afganistan disebut sebagai negara muslim yang dijajah Rusia sebagai negara Komunis.
Setelah menerima tawaran Heri, seluruh persyaratan di antaranya paspor dan uang jalan diurus Heri.
Pada saat itu yang diberangkatkan dari Purwokerto sebanyak dua orang, yakni Zuhri dan Sodiq. Namun, Sodiq dinyatakan gagal karena sakit, sehingga tidak jadi diberangkatkan dan akhirnya yang diberangkatkan hanya dirinya sendiri.
Dari Purwokerto, pria kelahiran 13 Januari 1970 ini, diantar ke Jakarta oleh Heri ke komplek Perguruan Assyafiiyah.
Di sana, Zuhri bertemu dua orang keturunan Arab yang juga akan diberangkatkan ke Afganistan. Mereka adalah Dulmatin dan Hisam. [bersambung/jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !