INILAH.COM, Jakarta - Berbagai kemudahan didapat dalam perjalanan jihadnya menuju Afganistan. Dulmatin yang memimpin Syaefudin Zuhri pun sempat bertemu dengan Ali Imron yang merupakan satu angkatan.
Berbekal dengan Paspor tersebut, Zuhri bersama Dulmatin dan Hisam menyebrang ke Malaysia dengan menggunakan kapal ferry. Sesampai di Pelabuhan Malaysia mereka dijemput seorang laki-laki orang Indonesia yang logat bicaranya bahasa Melayu. Kemudian Zuhri bersama kedua temannya diantar menuju kawasan Jempol menuju sebuah desa.
Selanjutnya, di sebuah rumah panggung dari kayu yang tak berpenghuni mereka bermalam selama sekitar tiga hari. Kemudian oleh laki-laki yang menjemput tersebut, paspor mereka diminta dan baru dua hari berikutnya laki-laki itu kembali menemui untuk memberikan paspor kembali.
Setelah menerima paspor masing-masing, Zuhri, Dulmatin dan Hisam dijemput seorang laki-laki dengan mengendarai mobil pribadi, yang kemudian mengantarkan mereka ke Bandara Malaysia.
Kemudian dengan menumpang pesawat, ketiganya terbang menuju Karachi, Pakistan. Setelah sampai di Badara Udara Karachi perjalanan dipimpin Dulmatin dengan naik angkutan umum ke Kota Peshawar menuju sebuah rumah penduduk.
Di dalam rumah tersebut ada sekitar lima orang Indonesia yang tidak dikenal Zuhri. Setelah satu minggu di rumah tersebut, Zuhri bersama dengan Hisam diantar seorang laki-laki keturunan Arab
Indonesia menuju daerah yang terdapat camp, yang berada di wilayah Sadah. Yakni perbatasan antara Pakistan
dan Afganistan. Di camp tersebut Terdakwa bertemu dengan orang-orang Indonesia. Diantaranya Ali Imron, Kudama, Abu Dujana, Saad, Mustofa, Nuaim, Ani Sugandi, dan Nasir Abas.
Ali Imron dan Kudama adalah peserta satu angkatan. Sedangkan Abu Dujana dan Saad merupakan kakak angkatan. Sementara Mustofa sebagai pengajar fiqih, dan Nuaim, Ani Sugandi serta Nasir Abas juga adalah pengajar. [jib]